Langsung ke konten utama

Postingan

Waluku

Inikah kabar baik itu, paman? suara geluduk di utara kembang dadap, burung jalak dan benih-benih dipilih malam hari aku berdiam diri di belakang rumah, bersandar pada kayu-kayu bekas seperti seorang kakek yang mengingat sekantung beras di masa kolonial Pajjer lagguh arenah pon nyonarah Bapak tanih se tedung pon jege’eh* Orang-orang menoleh ke sana-ke sini, seperti ingin bertukar senyum kalau tidak senin, ya rabu, kalau tidak rabu barangkali jumat jangan makan di pintu, jangan memakai baju terbalik, jangan membuang sisa makanan, nanti menghambat hujan turun, nanti cuma geluduk yang datang, nanti benih-benih terganggu, lalu kurus tumbuhnya. Ngala’ are’ so landuk tor capengah Bau lorkong dan tanah ladang menguap sampai ke dapur-dapur hai baunya sudah datang, baunya perempuan dipinang ada ibu menampih la’as, ada ibu memandang ke luar jendela ada ibu menyapa mau ke mana, ada kaki tergesa membawa sasmita ada aku bersandar pada kayu-kayu bekas seperti seorang kakek memandang langit, melihat ...

Maja

Ketika aku disangka penghilang dahaga, dan seorang militan tergiur kepada yang sejuk, di situ permulaan itu ditanam. Dari pahitku yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Lalu, jadilah ia, kau, dan mereka, dikepung perasan satu pahit satu pilihan. Menjadi kobaran api, kepalan tangan, dan semacam maklumat yang menjelma kaki-kaki yang kokoh. “Kami lahir kembali dari pahit yang tak sengaja” Orang-orang berwajah lain semakin datang, semakin militan membentuk pekarangan rumah. Membentuk yang samar jadi sumpah, jadi guyup, jadi yang tak bisa diterka seperti anak panah dalam kabut. Ada kembang mayang bermekaran seperti doa-doa, ada penumbuk padi, ada perkakas yang dibunyikan terus menerus. Ting, ting, ting! Ia, kau, dan mereka berjalan seperti peronda, mengenali letak bintang, membedakan daun gugur dan yang digugurkan, mencium bau bangkai sebagai kabar. Bila ada yang menyapa, menyapa dalam isyarat, menyapa yang di balik pintu, “kita sampai di mana sekarang?” 2012 Alek Subairi

Ketintang

Banyak yang datang menyerahkan pagi hari kepadamu, seperti menyerahkan nasi kuning dan doa selamatan. Doakan kami agar terhindar dari banjir yang mengepung asal-usul kami. Kami ingin terjaga dari tidur setiap kali ada bunyi ting, setiap kali ada bunyi yang menyaru ibu bapak kami yang jauh. Namun, bila kami terjaga, bunyi-bunyian itu menjadi sosok lain, menjadi kerisik tikus yang gemar menabrak pintu dan pagar rumah kami, menjadi siaran sepakbola yang gaduh, menjadi ajakan mengelabuhi perasaan kangen di warung kopi yang licin. Siapa yang datang dan yang pergi cuma sebutan sesaat. Semua orang membawa tas, membawa mantel hujan, membawa rencana-rencana pertemuan yang tak pernah selesai dimiliki. Lalu kami membuka pintu malam-malam. Mengintip ke luar, ke arah pos ronda di tikungan yang kosong. Barangkali kami merindukan memukul potongan besi yang menggelantung itu, sekadar memastikan kalau kampung ini masih terjaga. 2012 Alek Subairi

Rabu Surup

Di bawah tiang tanpa bendera, ada yang terburu jadi sore pada duduk yang melingkar, duduk yang mirip kenduren di surau paman. Seseorang akan berdiri, lalu pergi ke barat atau ke timur. Seseorang yang lain, yang bukan kau dan aku, menyayangkan niat yang tertinggal di paving, di bekas dudukmu dan dudukku. Barangkali memang ada yang tumbuh dari bekas duduk yang berdekatan itu, meski tidak sebagai kembang, juga tidak sebagai ajaran. Ia yang tumbuh, barangkali melihat ke arah kau dan aku, setiap kali sore turun, setiap kali angin selatan yang sehat mencium kembang dadap dari belakang. “Selain kenangan, apa yang ingin kau sampaikan?” 2012 Alek Subairi

Jalanku, Jalanmu, Jalan Kami

Berjalan di antara tikus, wajahmu hijau kemuning. Angin dari kebun menerbangkan layang-layang, mimpi dan kekasih yang sulit tidur. Bila tidur sedikit, selalu ada berita memanah jantung dan kaget. Aku cinta pulau-pulau kecil dan sampan yang mengerti gelagat angin. Jangan hardik agama lain, jangan dihapus nama-nama yang menyimpan urat-urat kampung. Kami ingin sekali mengirim perasaan syukur kepadamu. Kami kini menanam umbi-umbian, rempah-rempah bumbu masak, dan sedikit kembang-kembangan di pekarangan kami satu-satunya. Bangun pagi mengantar ibu ke pasar dengan raut muka seperti sekerat roti yang diperkenalkan ketika musim hujan. “Hai mendekatlah, kami melihat layang-layang yang menyerupai masa lalu kami. Kami jadi ingin sedikit bernyanyi dan melambai.” Melambai kepada yang menjauh dan yang akan datang. Selamat pagi ruas-ruas jalan yang saling terhubung. Jalan yang mengerti kesunyian kami, tabiat kami, bau tubuh kami yang berabad-abad kami bawa dengan kedua mata berkunang-kunang. Kami ...

Empat Sore

: Choirul Wadud, Timur Budi Raja, Mahendra, dan seorang yang tak dikenal 1 Seseorang berangkat mancing pada empat sore dengan kail nomor 9, dan sekantung cacing bakau. Ada bayang-bayang mujaer, gabus, udang galah yang senang menerima umpan rendah hati. Ia mengerti di mana memilih tempat duduk, mencium udara yang mengirim aroma bunga bangkai, limbah plastik ,dan kencing hewan melata sabarlah sungainya, tenanglah pandangannya sepilah bahasanya. Sebab bila air keruh datang, ia seseorang yang tak berniat melaporkan pabrik-pabrik bocor, penambang pasir, bangkai ikan, dan suara-suara terjepit di palung yang murung. Sebab ia tahu, berita koran dan televisi membirukan yang hitam, menghitamkan yang merah, memerahkan yang putih, memutihkan yang kelam dalam sekali pandang. 2 Seseorang yang lain menemui asharnya di depan rumah tanpa bilang-bilang tak mengapa kalau ada yang menerka yang tidak-tidak sebab dengan demikian kebajikan tetap di peluknya, ketika yang lain-lain mabuk dalam prasangka. Kalau...

Pekur

Kami saling berdekatan seperti ayah ibu. Mengumpamakan jalan yang takselisih, yang taklekas usai dipandang. Kantung-kantung beras kami beri doa. Sumur dan pekarangan kami jaga seperti membaca potongan ayat yang kami sukai warnanya. Namun kami kehilangan puji-pujian yang ingin sampai kepadamu sebagian dari kami mengingat lagu-lagu, tetabuhan, pitutur dan pamali sebagian yang lain membongkar silsilah keluarga, membaca darah, dan rujukan-rujukan sampai kami menangis di dalamnya. Lalu kami mulai belajar membuka pintu, membuka penutup kepala berjalan seperti penandur pari di sawah sewaan. Kami tak menjumpai apa-apa bila ditanya. Namun ada yang berwarna-warna menjalar dalam tubuh kami. 2011 Alek Subairi