Langsung ke konten utama

Postingan

Tumbilotohe

Suara bunggo** seakan menambah semarak malam Diantara kepulan asap hitam dari lampu botol Nyanda parduli minya’ tanah so mahal Yang penting tradisi tetap ta piara Ini bukan soal pemborosan Ini soal kepercayaan Jangan ganti deng lampu listrik Nanti depe makna mo ta piaro Kita ulang lagi e… Ini bukan soal boros Karna bulum tantu lampu listrik mo ba ganti makna dari lampu botol Karna so disitu juga depe estetika So disitu tampa orang ba lia akang depe sejarah Kase biar bunggo tetap ba bunyi Janga ganti lampu botol deng lampu listrik Karna ini, malam Tumbilotohe Tumbilotohe : malam pasang lampu di Gorontalo biasanya dilaksanakan tiga hari sebelum hari raya Idul Fitri Bunggo : biasa juga dikenal dengan nama Lantaka atau lentaka, meriam bambu/bulu 24 – 09 - 2007

Kabar Duka Citaku

* kutulis apa yang tak ingin kusebut sebagai puisi ini, karena kutahu bahwa mungkin tak bisa denganmu kurasakan untuk bersama * menelusur langkah dalam kesendirian semuanya tiba-tiba seperti bicara mengajak hampa perlahan berbentuk tentang jejak-jejak tangis dan tawa sambil meraba nada-nada masa depan di tiap-tiap tepi jalan pada debu beterbangan, bunga yang menari, lagu bocah-bocah dan pulas para angsa hari ini cerita hamil oleh kenangan * kenangan bersijingkat di atas genangan air ataukah fatamorgana dibias silau ada wajah yang rinaikan tawa berceloteh tentang kepodang terbang sepasang memahat cakrawala jadi ukiran kasmaran wajah siapa di langit awan cemerlang pantulkan cahaya membuat bayang-ayang genit menari menggelitik dengan sisa hujan di sudut bibir aku berpaling ada kelopak mawar lagi tersipu hingga desau angin luruhkan daun mahoni antarkan kembali sadarku pada jalan tempat tengah melangkah menapaki sunyi yang satu-satu terawang * terawang menyata telah begitu jauh kugandeng ti...

Puisi-Puisi Emong Soewandi

MOSAIK SEBUAH JEMBATAN KEDUKAAN kedukaan kini mesti diseberangi dengan berat yang mungkin tak terimbangkan antara aku dan keinginan, serta hati yang telah tertatih membimbing imajinasi ke puisi romantik tentang laut dan pelangi. maka jadilah bentuk dan garis bersinggungan tak-beraturan tanpa pangkal tanpa akhir tanpa isi tanpa tubuh adalah kegelisahan sebagai sandi-sandi rahasia yang memerlukan kunci pembuka diikat dengan rantai-rantai matahari ambang fajar. namun selalu saja lupa dimana ditaruh sebelumnya atau, mungkin telah lolos dari kantung untuk ingkari kesetiaan janji tentang bertanam benih di lahan yang baik ah, tentu butuh waktu untuk menemukannya sementara galau telah sampai di puncak tanpa purna-kepastian bengkulu, oktober 2005 LALU KEMARAU DI BULAN KEEMPAT belum ‘kan ada bunga kopi mekar, yang tegak di atas cadas. di antara daunan yang terkulai ditampar kering bumi. yang memang sulit tepati janji berikan mata air. maka jadilah pagi hari kita cukupkan saja dengan selemba...

Padang Gerimis Burung-Burung

di padang gerimis pecahan kabut kian tipis di selak angkasa gumpalan gabak kian sempurna di mataku burung-burung berkawin dengan angin menuju semesta penuh tanda dengan paruh kuncup dan bianglala yang susup ditelannya sebuah pesan tentang hutan dan udara perawan tahun pun seiring bulan tua seperti lingkar buta yang terpanah cahaya ia pun berumah, di ujung tahun dalam mimpi yang terbangun memungut rumput di padang keriput menanam isyarat saat musim berangkat rumah itu, dalam wujud daun berajut tempat ia dan sepi berpaut menghadiahi sepasang kepak baru: sepasang rindu masa lalu hingga, pelan-pelan sebentang ingatan menggerus tubuhnya, sebentuk tanda di balik gebuk awan, tempat ia menajamkan mata mencurigai segala juga kerisauan yang terhampar serupa padang ketika ia dilepas dalam lengang tapi, tentang pulang ia hanya kenal setumpuk maksud yang jauh yang tanggal di tiap bulunya yang janggal mengenai sebuah kembara ke tahun yang samar, tempat hidup dituang lebih pijar membuatnya sadar se...

Tebaran Mega

Kumpulan sajak ini ditulis oleh Sutan Takdir Alisjahbana dalam masa dua tahun : 1935-1936. Bisa dikatakan pada kurun itu, ia berada dalam suasana berkabung, karena wafatnya istri tercinta. Namun sikap optimisnya, nalarnya yang luas, mampu menghapus pilu, menghalau duka yang melandanya. Sutan Takdir Alisjahbana yang akrab dengan panggilan STA merupakan penyair angkatan pujangga baru. Beliau lahir di Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908 dan tutup usia di Jakarta, 17 Juli 1994.

Sajak Arif Rizki

PELABUHAN hari ini matahari terlambat bangun tidur, katamu dan keabadian sajak telah kau pahat dalam ranjang-ranjang yang mengekang lenguh-lenguh perawan kalender-kalender telah botak. bila kau bosan mengangkat panggilan dari kesunyian, di hatiku ada cermin retak. masuklah. angin terlalu kencang untuk berjalan akan kita nyalakan tungku-tungku yang patahkan waktu setelah kau jemu pecahkan tampuk rindu dinding-dinding yang sabar. kertas-kertas yang lapar. adalah pelabuhan yang menampar tahun-tahun penantian para penggali sumur air mata yang jenuh berkeluh kesah. catatlah! catatlah! kegelisahanpun menahun lahirkan tinta-tinta yang racun padang, desember 2007 SAKIT RUMAH ternyata masih kudengar sedu mu ketika ku tertatih menjerang kantuk. hai. di suatu pagi, pernah pula ku dengar sedu yang sama diantara kardus yang bisu, dan diantara selimut berbulu menyerapahi gegedung yang menggunung negri ini terlanjur konyol, tempat disenandungkan sumpahsumpah yang klise jadi kita tak perlu lagi mema...