Langsung ke konten utama

Postingan

Puisi pendek Iggoy el Fitra

Sajak-sajak Iggoy el Fitra Lovapalooza Aku ingin menciummu berulang-ulang Setelah badai tidak lagi mampu menerobos derasnya air mata Setelah petir tidak lagi mungkin menggelegarkan rimbun tawamu Selalu ingin menciummu berulang-ulang Hingga warna-warna menjadi biru Plot Abadi Perjalanan ini lekat di punggungku, Neng Kaupandang dan kaukerok     Menjejakkan rindu yang berkelok Masih Terlalu Awal untuk Tidur Masih terlalu awal untuk tidur Bila bantal yang kan kautiduri belum bersarung Juga seprai yang kautenun belum juga rampung Di sini aku menyiapkan tubuh sebagai ranjang Kepada Perempuan Keluarkan aku dari perutmu, sebagaimana aku melahirkanmu dari pinggangku Bintang yang Jatuh Tengah Malam Buta Aku seperti perumpamaan Hidup yang direka-reka sebagai kunang-kunang Bernapas pada malam Hilang bersama siraman matahari paling ganas Keringat dan aku Sama-sama mesti dihancurkan Diperas, lebur, dan disekap pasir-pasir Malioboro Cangkir kopiku tergun...

Sehabis Hujan Semalam

Sehabis Hujan Semalam   tak kutemukan bulir-bulir senyum disini mungkin ia terhapus oleh basah semalam tawa renyah pun membusuk sudah diantara patahan hati dan beku darah kurindu belai dan genggam tangan pagi inikah kau akan bangunkan kutidur bawakan secangkir teh manis dan sepiring nasi goreng   di kota ini bayangmu kembali memenuhi pelataran pucuk-pucuk wangian teh hingga katup bola mata enggan kerja tak kutemukan wajah bulat itu disini bahkan kabut tipis kegirangan selimuti tubuh dempo      : pagi ini ada dan atau tanpa kau        aku tetap kelelahan   Pagaralam, 16/09/2006  

Aku Datang Ke Kota

Aku Datang ke Kota   aku datang ke kota bukan untuk temukan siapa yang datang untuk siapa atau siapa yang pergi untuk datang atau sekedar setor wajah pada lidah-lidah basah itu   aku datang ke kota tidak juga untuk nantikan jawaban siapa menunggu siapa dan siapa yang paling setia bukan juga sepotong cake coklat untuk mulut-mulut kelaparan itu   aku datang ke kota bukan tidak mungkin untuk merampas dongeng yang dulu tercatat di pinggiran Cikini   aku datang ke kota bukan untukmu -  bukan untukku pula tapi untuk kita    : besok - esok - esok      dan esok begitu punya nilai   Pintu A4, 20/09/2006  

Putus Asa

Ada hati tertancap di tanah merah Tegak menantang nasib yang membunuh waktu demi detik lalu meninggalkan bau anyir kepalsuan pd setetes hujan di dalam kaleng kelambu hidupku Hati ini bukan milikku lagi Sudah dirampas melalui tontonan tirani yang gamblang dan darah yang berceceran di jalan jalan Aku cuma ingin pulang Masuk lagi dalam rahim ibuku dan minta terlahir kembali tidak di jaman ini ! tidak di negeri ini !!

Di Ambang Senja

Di titik ini aku bersimpuh Luruh mengaduh batin pada Mu Menanti senja yg segera menjelang Merindukan fajar yg entah kapan datang Kepada rintik embun yg menyisir bebatuan itu Kutitipkan sejumput asa yg masih tergenggam Mencoba menabur harap Mengais sisa-sisa nurani Masih adakah terselip di sudut hati...? Kepada sang wibawa di singgasana istana Kutitipkan cita cita rakyat merdeka Kami ini cuma debu bagi kalian Jadi dasar ribuan alasan sang tuan Kami tak lebih dari hitungan angka angka Bahan rapat utk mencari utangan Tuan tuan sekalian Sudilah tuan sejenak bersamadi Selami hati renungi diri Mentari sedang pergi Tinggalkan kita sendiri Akankah ia kembali?

WONG TAI SIN ( II )

Pandita… ketika kau berkeras hati demi kebenaran tak berbentuk diantara wujud tak terbahasakan tentang pekerja dan perhambaannya kini, kulahirkan benih-benih amarah yang kutanamkan di tanah kemunafikan pada waktu keindahannya, menjeritkan derita! Kebenaran apa yang disetubuhi oleh perbudakan diantara pekerja? Oh, tentang mimpi keabadian… sebuah karma diantara ketidakadilan tentangnya… tentang mimpi yang terhambur Jangan! jangan kau basahi kemunafikan dengan doa dan berkat di Wong Tai Sin Rangsanglah kisah tawaku, berpilukan dendam tentang mimpi dibelah ketidakadilan karma yang tiadalah kau tilik Pandita Hong… September 2006, Leonowens SP       

WONG TAI SIN

Pandita Hong… ketika kebenaranmu menyentuh mimpi keabadian di ujung segala kebajikan, luruhkan hariku yang kau semaikan di pelupuk derita tentang terberainya anak manusia lihatlah, kaum pekerja di tanah yang tak dikuasainya! hancurkan segala sakitnya, dicurahan derita yang menajam oh… semua ditahankan, terlalu erat pergumulan itu Pandita… kau membisu diantara kesaksianku walau kebenaranmu tiada menyentuh kebencianku yang kutumpahkan di tanah pergumulan, tiadakan rindu! ya, tentang sebuah kebenaran yang terbagi membisulah, diantara para budak… walau sang tuan membanjiri Wong Tai Sin oleh segala doa dan persembahan, oh… kemunafikan! diantara perbudakan, sempurnakan hari para tuan Pandita Hong… lihatlah, kaum pekerja merintih di tanah tak dimilikinya bungkamkan segala kisahnya, di pelupuk mimpi yang berlaksa oh… terlalu jauh mimpi itu, ‘tuk diraih diantara para tuan kini, apa yang kau semaikan diantara keabadian?   September 2006,...