Langsung ke konten utama

WONG TAI SIN

Pandita Hong…
ketika kebenaranmu menyentuh mimpi keabadian
di ujung segala kebajikan, luruhkan hariku
yang kau semaikan di pelupuk derita
tentang terberainya anak manusia
lihatlah, kaum pekerja di tanah yang tak dikuasainya!
hancurkan segala sakitnya, dicurahan derita yang menajam
oh… semua ditahankan, terlalu erat pergumulan itu
Pandita… kau membisu diantara kesaksianku
walau kebenaranmu tiada menyentuh kebencianku
yang kutumpahkan di tanah pergumulan, tiadakan rindu!
ya, tentang sebuah kebenaran yang terbagi
membisulah, diantara para budak…
walau sang tuan membanjiri Wong Tai Sin
oleh segala doa dan persembahan, oh… kemunafikan!
diantara perbudakan, sempurnakan hari para tuan
Pandita Hong…
lihatlah, kaum pekerja merintih di tanah tak dimilikinya
bungkamkan segala kisahnya, di pelupuk mimpi yang berlaksa
oh… terlalu jauh mimpi itu, ‘tuk diraih diantara para tuan
kini, apa yang kau semaikan diantara keabadian?

 

September 2006, Leonowens SP

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......