Langsung ke konten utama

Postingan

Khusus Wawancara dengan Penyair

SANG wartawan itu akhirnya bisa juga mencuri kesempatan, bertemu dengan Penyair Pujaan. Sejumlah pertanyaan sudah lama dia persiapkan. Sudah lama mendesak, "kapan kami diajukan?" Tapi, maklum penyair sibuk, ada saja halangan. Wawancara pun berkali-kali harus dibatalkan. *** + Anda sibuk sekali, Penyair? Ya, saya harus melayani kemalasan, masih direcoki oleh khayalan, dan sesekali harus bersembunyi jauh keluar dari diri sendiri. Belum lagi omong kosong yang sering datang bertamu, tak tentu waktu. Jangan kira jadi penyair itu enak. Jangan kira penyair itu seorang penguasa kata-kata. Kau tahu? Penyair yang baik itu adalah pelayan kerisauan bahasa. Dia harus memperlapang, apabila ruang pemaknaan menyempit. Dia harus mengajak dolanan, jika bahasa dirudung kemurungan. Tapi, dia harus mengingatkan, pabila bahasa mulai gurau kelewatan. + Ngomong-ngomong, puisi Anda pada kemana nih? Kok sepi? Ya, belakangan ini saya memang tidak banyak melahirkan puisi. Saya hanya menyiapkan banyak se...

GOENAWAN MOHAMAD: SAYA TAK BISA JADI ATHEIS

Bicara dengan Goenawan Mohamad selalu menarik. Penyair, esais, dan salah seorang pendiri kelompok Tempo ini terlibat aktif melawan rezim Soeharto di senjakala Orde Baru pada akhir 1990-an. Belakangan, ia cukup mengejutkan dengan buku kecilnya, Tuhan & Hal-hal Yang Tak Selesai, 99 percikan permenungan yang bersumbu pada soal-soal keagamaan. Ia juga kritis terhadap kaum Atheis “fiundamentalis” yang sedang laris saat ini, seperti Richard Dawkins, Sam Harris, Christoper Hitchens. “Saya terutama mengkritik kepongahan mereka,” katanya. Pada Jumat sore, 25 Januari 2008, redaktur Madina Ihsan Ali-Fauzi dan Hikmat Darmawan bercakap-cakap dengan Goenawan Mohamad di Bakoel Coffie Cikini, tentang Tuhan para penyair, Rumi, perang agama, dan Reformasi yang tak menjanjikan apa-apa. Berikut, ringkasan percakapan itu (versi lengkapnya, bisa diakses di situs Madina.com).

Aku Setelah Aku

:eyelight Aku berdiri sebagai reruntuhan, atau, mungkin sebagai reruntuhan yang duduk di depan monitor kesunyian. Gelombang- gelombang memori masih bergerak, seperti mesin scanner yang mondar-mandir di atas keningku. Batas kematianku dan batas kecantikanmu, membuat tikungan yang pernah dilalui para petapa. Aku masih reruntuhan dalam pelukanmu. Batu-batu bergema dalam puing-puingnya. Menuntunku dari yang jatuh. Berenang, dalam yang tenggelam. Menghidupkan gamelan mati di mataku. Ketukan-ketukan kecil, putaran di kening, lembah-lembah yang belum pernah kulihat. Aku berdiri melihat garis bibirmu dari matamu, garis yang dilalui sebuah truk. Seorang perempuan menyetirnya dengan lengan kirinya yang patah. Ia gulingkan cermin-cermin busuk ke dalam kaca: aku pada batas-batas berakhirnya aku. Perempuan yang kecantikannya melumpuhkan batas-batas militer. Parit-parit bekas peperangan, membuat mata rantai baru ke telaga. Bebaskanlah aku, bebaskanlah aku dari kultur yang menawan kebinatanganku. Ia ...

Jembatan Iblis dari Keningku

Buat BOT, Marianne dan Elia Sebuah gereja dalam salju. Kursinya membekukan kekosongan. Pintunya menutup musim dingin. Salin masih terus membekukkan sunyi. Di Gotthard, melewati Zurich ke Andemartt, sebuah hotel dalam salju. Albergo San Gottardo. Pintunya menutup musim dingin dari 5 menit musim panas. Lima jam mendaki, menyesatkan diri dalam lubang-lubang udara. Kota telah berlalu dalam kenangan memasak dan mesin printer. Lembah-lembah Urseren dan Laventina. Setiap belokan, melingkar. Arsitektur kesunyian, melingkar. Konstruksi kesedihan, melingkar. Mengubah warna kenangan dan gua-gua bekas peninggalan militer. Melingkar di bawah tebing-tebing batu di atas tebing- tebing batu yang kembali ke bawah dan ke atas. Ke luar dan ke dalam. Cahaya dari bukit-bukit batu, mengelupas melewati erangan Salju di musim panas, benturan antara yang berlalu dan berkelanjutan. Ruang di sini terus menciptakan dirinya berulang- ulang, untuk menyesatkan waktu dalam perjanjian antara iblis dan pendeta suci Got...

Mesin Jahit Bayangan

:Hello Ulrike Draesner Malam, sebelum agak malam. Buku-buku mengaborsi suami, setelah suami mulai kehilangan lelaki. Radius yang tidak pernah berubah antara daftar surat masuk dan surat ke luar. Pisau bedah di ujung bahasa, botol infus dari balik gerbang Berlin, mengaborsi lampu-lampu malam. Ukuran kemeja yang tidak bisa memperbesar bayangan lelaki di luar rumah. Apakah puisi, tanyamu: di antara kursus-kursus bahasa, memindahkan kultur kota dari mural East Side Gallery ke tembok yang lain, dan bau mentega yang menciptakan lidah di antara pisau. Dekontruksi memori dari rahim ke bekas reruntuhan pesawat. Lebih turun lagi ke rasa berantakan. Kau rasakan, puisi mengambil jiwaku untuk mendapatkan bayangan bahasa, ruangnya yang tak punya luar dan tak punya dalam. Gravitasi cinta yang melampaui benua, menyentuh seorang anak India dalam pelukanmu. Lebih naik lagi, kata yang meruntuhkan setiap representasi. Agak malam setelah malam. Kau rasakan dinding-dinding rumah masih merasakan setiap memor...

Apartemen Identitas

Aku ingin bisa melihat angin. Melihatnya. Menggenggamnya. Menatapnya. Menghembuskan setiap pecahan aku ke aku yang lain. Biji-biji bahasa berjatuhan. Seseorang melihatku melalui mata sebuah bangsa dari jendela apartemennya, di jalan Eugene Sue, telah berlalu meninggalkan yang telah berlalu. Empat kelompok angin besar, kelabu, bergerak. Membuat perempatan angin di langit. Kelompok awan putih dibaliknya, menyimpan perpustakaan Utara dan Selatan. Bergerak dari empat arah. Biji- biji bahasa memecah identitas, kamus-kamus tercabik, setelah Perancis dan Afrika. Malam datang bersama suara ambulan. Kita belajar sendiri-sendiri ketika bersama. Udara dari tubuhmu membuat biji-biji bahasa tumbuh di atas debu-debu yang berkumpul di balkon apartemen. Asap tembakau menjemput seorang penyair yang bermukin dalam tas kopernya. Burung-burung, anak-anak musim yang setia, menjaganya dengan cerita-cerita botanikal. Penggaris yang mengukur kematian, dan pidato seorang pengangguran di kereta metro, melintasi...

Ibuku

Ibu, aku bersaksi engkaulah perempuan rupawan yang berwajah tersenyum menawan pantulan kebersihan hatimu yang hasan Ibu, aku bersaksi engkaulah guru pertamaku yang mengajari kasih sayang sejati yang mengajariku mulai dari membuat titik lalu menjadi garis-garis dan aksara yang berarti Ibu, aku bersaksi engkaulah seniman yang membimbingku siang malam kepada keindahan semesta alam menuntunku menirukan suara-suara merdu menirukan tarian-tarian dahan yang bergoyang menyalin pemandangan dan panorama dan menuliskan segala pesona Ibu, aku bersaksi engkaulah patriot panutanku yang tak henti mengingatkanku tentang cinta tanah air tempat aku lahir tempat aku mewujud dan bersujud Ibu, aku bersaksi engkaulah mursyidku yang mengenalkanku kepada khaliqku yang syakur yang mendidikku bersabar dan bersyukur berzikir dan tafakur yang melatihku antara khauf-rajaku yang membaur menyerap kasih sayang Ilahi yang luhur Rembang, Desember 2013 A. Mustofa Bisri sumber: Jawa Pos, 20 Desember 2013