Langsung ke konten utama

Postingan

Simpan Airmatamu

jangan basahi malam ini dengan bening air yang jatuh dari hulu di sudut matamu. segumpal kesedihan yang membatu— biarkan perlahan terkikis waktu. sebuah pintu senantiasa menunggu terbuka oleh tanganmu. di luar, sepetak dunia dan sebentang jalan rela mengantarkan menuju ngarai kebahagiaan. bangun, beranjaklah segera, rita simpan airmatamu tak perlu terpaku merawat sendu demi setitik debu yang mudah berlalu Surabaya, 2008

Tiada Kupinang Engkau

tenanglah, tiada kupinang engkau di bawah hawa sore seaneh ini. hanya aku bermimpi jadi seekor enggang —menyusun sarang di dahan lengang, mencari ceruk persembunyian pada bentangan malam berawan pada rawan di ruang penantian. tiada akan aku lari, tapi hanya diam, geming sendiri—memagari miang diang seraya nyanyikan nina bobo bernada sungsang, separau risau, aku berlagu untukmu, untukmu saja duhai dara bermata hujan senja... namun, dengan puisi pun diri bisa terbantun sengungun daun, sebab seperti yang kuyakini: antara diri, sunyi, dan misteri sudah tak terbagi RS. Haji Surabaya, April 2008

Tahilalat di Bibirmu

setitik dunia berbisik ke sunyi lautku: ia sebangsa kenang, sebangsa padang yang menampung selaksa ruang yang kujelmakan harum bayang-bayang "engkau merangkum senyum pertanda hujan merapat ke sisi daun sebelum ranum" dan masih kupilih tahilalat di bibirmu sebagai titik api juga isyarat bagi kelasi memutar kemudi mencari sudut di cakrawala panjang meski masih ada sepenggal rasa hilang: tiada daratan ‘tuk arah pulang, segala merentang tualang sedang rasi bertutur pasi tak berkisah tentang cinta yang datang "engkau merangkum senyum tiada tiba reda, hujan terus bernafas —deras dan menggerum" maka kucari tambat pada tahilalat —ya, tahilalat di bibirmu, seperti temali yang erat mengikat sepi abadi dini hari, seperti jejak bintang yang tak lekang kubaca, seperti jalar beluntas di pagar-pagar. senyummu bangkit mengikut angin, mencari jalan-jalan sunyi yang bermimpi diberkati, lalu menjelma bahasa yang enggan dilupa "engkau pun tersenyum tahilalatmu hiasan yang bertahan...

Preludium Sederhana Bagi Rita, 3

sejak cuaca memerahkan cakrawala dengan puing cahaya warisan senja, lengan-lengan waktu seakan datang, hanya untuk melukis bilur lebam di dasar jiwa, selebihnya—dunia yang hampa oleh pagutan rahasia dari balik kata-kata. aku mengenalmu tatkala angsana meluruhkan bunga, sebelum tangis gerimis berduyun turun dari utara. kala itu, tiada percakapan atau kenangan yang mengundang hujan bernyayi tentang sepetak beranda yang lengang dan sunyi. ah, semenjak senja pergi, di udara menggenang rintih-ratap menggetarkan bulan lalu waktu menyerahkan jasad ke pangkuan malam. selaksa pertemuan hanya diam terbungkam, dan cinta senantiasa memabukkan meski tanpa kehadiran, ungkapan —tanpa percakapan. Surabaya, Juni 2007

Preludium Sederhana Bagi Rita, 2

sesempurna apa bila hati sunyi, lagi mengigau satu namamu. masih tak kumengerti, namun kurasai tanganku lantang tergerak menggali perigi, sendiri mengharap mata air ruah tercurah, dan kelak membawaku berperahu menuju muara di hatimu. debu-debu salju dari beludru sayu bola matamu mengajakku berdansa di bawah kubah cahaya lalu memaksaku beku, seraya menghayati musim yang tak kukenali namun selalu aku akrab senyum cuacanya, yang senantiasa membuat bunga di taman kota, membuka kelopak rindunya. duh rita, betapa singkat senja, betapa ringkas segala seperti sajakku yang sahaja —menyerah pada malam, terbenam beribu tafsir bisu, tentang diam seekor kupu, seekor kupu dari hulu senyummu. Surabaya, Februari 2007

mengapa aku tiba-tiba merasa benci bila kutuliskan judul untuk puisi yang tak puisi ini?

tak urung kau buka juga jendela kamarmu. ada sesuatu yang menunggumu. sesuatu yang kau enggan menyebutnya dalam jaga, tidur, bahkan hanya dalam angan. kau takut? kau takut bila suatu saat dia memilihmu menjadi kekasih? dia sungguh mengharapkan kehadiranmu, seperti seorang bocah menunggu uang jajan dari sang ibu. entah sejak kapan cintanya tertanam untukmu. dia tetaplah dia. dia adalah sesuatu yang menunggumu dari balik jendela. tapi kau enggan menyebutnya. mungkin ia merindu-dendam ingin menemuimu dalam sebuah kencan di bawah purnama bulan, di atas bangku taman, dalam sebuah kesempatan yang akan dia simpan di bilik kenangan. mengapa kau sungguh membencinya? mengapa hatimu gusar bila kusebut namanya? apa dia telah mengganggumu di setiap ruang dan waktu? ya, apa sebabnya kau sungguh membenci MAUT itu.... Surabaya, 23 Juli 2009