Langsung ke konten utama

Postingan

Hari ini setahun yang lalu

Selamat berjumpa kembali dengan Puitika.Net! ^_^ Selama lebih dari satu semester kita tidak bersua, bagaimana kabar hidup dan puisi Anda? Meski Puitika.Net mengalami kevakuman selama masa itu, kami harap dinamika puisi dalam ruang dan waktu yang Anda jalani masih terus bergerak maju. Judul di atas sebenarnya terinspirasi dari beberapa puisi yang baru tayang di Puitika.Net. Sekitar setahun yang lalu naskah-naskah puisi itu dikirimkan ke Puitika.Net namun baru saja ditayangkan di sini. Wow! Perlu menunggu setahun untuk dapat ditinjau dan diputuskan untuk tayang atau tidak! Jarak waktu yang membuat semua orang terlalu bosan untuk menunggu, bahkan pengirimnya sendiri mungkin sudah lupa bahwa mereka pernah berkirim naskah ke Puitika.Net. Bagaimanapun, memang demikianlah adanya. Bukan karena puisinya yang kurang bagus, namun lebih pada pihak penyunting yang baru sempat meninjau lalu memilih untuk menayangkan naskah tersebut di sini. Tanggal 8 Juli 2009 adalah sebuah momen yang hanya terjadi ...

Kata Yang Tak Bisa Didengar

terkadang kata tak mampu mengucap apalagi sajak, bisa jadi hanya basa-basi belaka dalam diam kau berkata aku pun bisu mendengarkan mencerna kata yang tak bisa didengar meski banyak hal sulit terungkap dan misteri yang berlarut tak kunjung surut dengarkanlah semua itu lewat hati nurani dan separuh jiwa yang sepi untuk kata yang tak bisa didengar

MAHARAJA DISASTRA

MAHARAJA DISASTRA PEMIMPIN BENGKULU KARYA : BANDO / ABAS Ketika itu ……… 18 Nopember 1968 …. di Negeri ini Propinsi Bengkulu Dan ……… sejak saat ini Terpisahlah dengan kota Palembang Dengan bermodal harta Barang tambang Sawah ladang dan kebun Pantai yang indah Laut, sungai, bukit dan gunung membentang Memanjang dideretan pegunungan bukit barisan Engkaupun tumbuh menjadi dewasa Kini ………….. Tiga puluh tujuh tahun sudah usiamu Usia yang semakin cantik dan dewasa Kau butuh pemimpin yang menentukan masa depan ………… Keberadaanmu ditengah-tengah peradaban dan teknologi yang semakin pesat Kau butuh tangan-tangan terampil ….. Dan pemikir yang cerdas di Negeri ini Mari kita bersatu Singsingkan lengan bajumu Satukan langkah Kita bangun Bengkulu Bengkulu kota pelajar Beli buku di tengah kota Dengan sepeda jalan melingkar Meski belum ada bis kota Aku tak kan pernah ingkar Wahai pemimpin Bengkulu Kami menunggu …………….. Kami menunggu …………….. Teriak hati, jiwa membara Percepat Bengkulu maju Dengan semanga...

Jadwal Off-Line Puitika

Puitika.Net akan off-line selama lebih kurang 1-2 pekan. Jadwal ini kami perkirakan dimulai sejak tanggal 6 Nopember 2008. Selama beberapa hari sebelum off-line, tampilan wajah Puitika.Net mungkin akan terasa kurang nyaman. Hal ini dikarenakan kami sedang menata ulang fasilitas-fasilitas yang ada di dalamnya. Setelah masa off-line, kami berharap sudah dapat hadir di hadapan Anda dengan tampilan baru dan tentunya dengan kualitas situs yang lebih baik dari sebelumnya. Penambahan materi non-puisi nampaknya belum dapat kami perbarui, namun kami dengan senang hati menerima kiriman-kiriman karya non puisi dari Anda. Puisi, Esei, Lawatan, Biografi Penyair, Liputan Aktivitas Puisi dan sebagainya dapat Anda kirimkan melalui surat-e kami di puitika@ymail.com (ingat! bukan gmail lho!). Alamat ini kami buat khusus untuk wadah ketika puitika.net sedang off-line. Karya-karya Anda juga dapat dikirimkan melalui milis puitika di puitika@yahoogroups.com. Pendaftaran anggota di milis akan kami buka tanpa...

saat hening masih bersamaku dan ku menunggu untuk mencium-Mu

belum kumainkan tarian suci itu, hari ini masih menunggu sang pengusik hati itu membuatku terpaku dalam penantian berharap dia datang lebih awal dan lebih sering agar dapat kurapatkan ….cinta ….kasih pada ciumanku kuhabiskan penantian menyanyikan lagu langit dan lagu bumi mainkan dawai, mencegat mimpi yang mungkin akan mengganggu kekhusyukanku untuk mencumbu hamparan alas rebah, juga arah jiwaku belum juga kumainkan tarian suci, hari ini masih setia aku dengan penantian yang semoga tak abadi wahai, ijinkanlah aku untuk memamerkan warna-warna yang belum sempat kutorehkan di atas kanvas yang telah penuh dengan coretan yang telah kugambar dengan yang kesekian belum kumainkan tarian itu karena hening masih bersamaku …….

puisi ferdinan de j saragih

Mabuk Puisi Setiap teguk minuman Selalu dihinggapi kata bermakna Dari mulutnya Orang-orang terpana mendengarnya Kata-kata Kalimat yang terucap Menjadi bait-bait puisi Setiap malam dia mabuk puisi Setiap malam dia terhibur Setiap teguk satu bait Setiap gelas satu puisi Setia Budhi, 2008 Mawar Putih Pagi Mawar menjadi putih Mekar Harum Lembap oleh embun Pagi Gadis itu menjadi mawar Memesona Cantik Rambut lembap terurai panjang Pagi Hatiku ikut mengelabu Hayalan Cinta Menemaniku, hingga pagi itu Bandung, 2008 Arti Sebuah Tulisan Kubenci kau dengan tulisan Kutulis semua kecewa Dan rasa marah yang kuberi Kutulis untuk melukiskan Tapi kau tak hiraukan Kamu bilang itu hanya tulisan Yang jika dicoret Tidak kelihatan Dan hilang dari pandangan Ketahuilah Walaupun itu hanya wujud Yang di tuliskan Itu bukan sebuah karangan Dari pikiran Tapi pernyataan hati Yang mendalam Bandung, 2007

Pertikaian Tanda Baca

Hari ini aku terjebak pada titik yang menghentikan pada diam koma pun marah dalam geram yang bertindak mesum aku hanya bisa tertawa menggandeng tanda tanya yang berseteru dengan tanda seru akhirnya akal hanya ragu dengan ketidak pastian bersama tanda kali dan bagi ia perhitungkan kaidah yang benar dan salah