Langsung ke konten utama

Jadwal Off-Line Puitika

Puitika.Net akan off-line selama lebih kurang 1-2 pekan. Jadwal ini kami perkirakan dimulai sejak tanggal 6 Nopember 2008.

Selama beberapa hari sebelum off-line, tampilan wajah Puitika.Net mungkin akan terasa kurang nyaman. Hal ini dikarenakan kami sedang menata ulang fasilitas-fasilitas yang ada di dalamnya.

Setelah masa off-line, kami berharap sudah dapat hadir di hadapan Anda dengan tampilan baru dan tentunya dengan kualitas situs yang lebih baik dari sebelumnya.

Penambahan materi non-puisi nampaknya belum dapat kami perbarui, namun kami dengan senang hati menerima kiriman-kiriman karya non puisi dari Anda. Puisi, Esei, Lawatan, Biografi Penyair, Liputan Aktivitas Puisi dan sebagainya dapat Anda kirimkan melalui surat-e kami di puitika@ymail.com (ingat! bukan gmail lho!). Alamat ini kami buat khusus untuk wadah ketika puitika.net sedang off-line.

Karya-karya Anda juga dapat dikirimkan melalui milis puitika di puitika@yahoogroups.com. Pendaftaran anggota di milis akan kami buka tanpa moderasi selama rentang waktu off-line tersebut. Jangan lupa untuk menuliskan username/nickname/nama pengguna Anda di Puitika.Net pada bagian akhir kiriman Anda agar kami lebih mudah mengidentifikasi karya-karya tersebut saat menerbitkannya di Puitika.Net.

Salam hangat,

Pengelola

Catatan: Untuk pencarian materi sementara ini dapat dilakukan melalui http://google.com dengan menyertakan kueri "site:puitika.net" (tanpa tanda petik) setelah kata kunci pencarian Anda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......