Langsung ke konten utama

Postingan

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1433 H

Puitika.Net mengucapkan Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1433 H untuk semua umat Islam yang merayakannya. Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima di sisi Allah SWT. Amin. Pembaca sekalian, tidak terasa Puitika.Net telah hadir di dunia maya selama lebih kurang 6 tahun. Bukan waktu yang singkat, tetapi juga bukan waktu yang terlalu panjang karena toh semua waktu itu telah kita lewati. Sekarang adalah waktu untuk mengambil pelajaran dari masa lalu itu untuk bekal kita melangkah di waktu-waktu mendatang.

Fragmen Kenangan

FRAGMEN I Ia berlalu seperti angin Sibakkan rambut ditepi dahi Lalu memeluk dengan dingin FRAGMEN II Kabut membungkus kalut Hantam dinding kaca buram Lalu tinggalkan sekelebat bayang FRAGMEN III Malam kelam menjadi gigil panjang Hanya bisik cumbu kepik dan ulat pohon Simpan rapi elpidos pelangi yang berangin Juli2007

MERINDUMU

Rindu...Barangkali bisa bersandar dipundakmu Hingga jemari menari halus..dipunggungmu Mencari titik perapian yang tak terlihat. Tak semestinya aku tersesat.. Dihutan tak berbatu... dan terbawa arus sungai yang mengering Sebab jelas aku melihatmu... Melambai - lambaikan tangan memanggil arwahku.. Yang merindumu.

Engkau Datang Untukku

Membayangkanmu datang saat sadarku pergi Menyapaku saat anganku bermimpi Engkau membangunkanku padahal semua masih lelap sendiri Aku? Merasa tak pernah kau kenali Aku mengenalmu walau kutahu engkau semu semata Seperti ini, saat engkau berlalu begitu saja Lalu, aku menginginkan mu dengan segala manismu serta senyum malaikat itu Hingga kutahu kau tak pernah ada dalam nyataku Di sana, kapalnya dengan layar cinta yang kusulam untukmu Aku mencintaimu walau engkau seperti liarnya lautan Nyatanya engkau tak bisa diam sepertiku yang memilih tenang saat kau tinggalkankan Sayangmu seperti ini, menghilang Aku menyayangimu sampai saat ini walau tiada mimpi yang bisa kau ingat walau tiada jejak yang melekat di hatimu yang penat Mentari sadarkanku Kau tak pernah sekemilau ini Nyatanya kau tak pernah bisa mengerti Tiada pernah kurangkai bingkai cinta setulus ini Engkau datang untukku Sesaat seperti mimpi malam itu Sayang sekali, aku terlambat menyadari Christ

Matahari Surabaya

maka pilihlah rumahku sebagai bukit bukit senyap yang akan kau rayapi dengan belah belah dadamu mimpi mungilku setengah berteriak dan sejuta sayatan tak lebih, warna warni seratus hujan dengan adegan percintaan yang meniupkan asap asap birahi pada kesempatan semi hujan maka sebutlah aku, serangkai capung yang mati terkapar pada tanah basah juga sedekap pada kesepian sebab tuhanlah tubuhmu dan untaian dzikir yang berpendar tak lebih dari miniatur kekosongan di mana kesepian bukit akan berbulan, mendiami sekelebat abad yang meruncing liar memancing manusia manusia yang berjalan tegang tanpa kepala Unesa, september 2007

saat sekarat

malam ini aku akan kembali pada diri kepada sendiri lalu, selain kau apalagi yang harus kutunggu bukankah kita membawa mati di pundak sendiri di jalan setapak di belukar semak hujan turun membasahi tubuh tunjukkan aku sebuah tempat di mana aku bisa berbaring tenang di sudut belantara menjadi bayang sekuntum kembang Januari 2008