Langsung ke konten utama

Postingan

Nurita: Sajak tak Tersua

nurita, senja mengajariku arti perpisahan. di sudut beranda matahari melepas gaun bercahaya. dalam satu kecupan saja kata-kata lebur melabur warna merah, jingga serta nila yang bersenyawa di luas udara. kulihat dedaun runduk memanggul makna, keberangkatan ini merupa hangat yang berkhianat pada lembut cuaca adakah serupa jelaga? sayu tatapanmu menyimpan malam yang sempurna namun dinginnya tiada sampai membangun sarang bagi jalan kesetiaan yang lebih panjang dan fana. kini rumah batinku hidup dalam cekal bebayang sembari masih kusimpan lanskap lukisan senja –di mana kabut-kabut muda berkejaran dengan gelap dan lindap yang berarak, berduyun dan bersorai menuju belahan lain dari waktu yang membatu di ceruk lesung pipimu nurita, senja adalah lembar terakhir sekaligus pertama yang musti kau baca dalam bahasa sederhana aksara bertebaran seakan melepas muatan harapan membisu ketika tak tersua sajak dalam kilat remang senja di matamu aku yakin, waktu tak pernah susut dan undur meski gerak jente...

Kuatrin Hujan

terbukanya gerbang langit adalah rinai jenuh butiran embun siapa berjalan, siapa diam bila rerumput kalut lalu ngungun? adakah ia menulis di air, di bawah desir, di punggung bumi yang tertakdir? ah, hujan dalam diri serupa ihwal di jantung bumi: pergi dari sunyi, pergi                                                                                               untuk sunyi Surabaya, 2006

Menilik Sastrawangi: Membuka Tabir “Kehalusan” Perempuan

Pengantar Dewasa ini karya-karya sastrawangi menjadi fenomenal. Karya mereka sempat menguncang kesusasteraan Indonesia modern dan menjadi ajang perbincangan di berbagai forum sastra. Tidak dipungkiri lagi bahwa salah satu faktor masuknya karya sastrawangi di jagat kesusasteraan Indonesia berasal dari bestseleernya beberapa dari karya mereka. Sebut saja Saman dan Larungnya Ayu Utami, Mereka Bilang, Saya Monyet dan Jangan Main-main (dengan Kelaminmu) Djenar Maesa Ayu, Supernovanya Dewi Lestari, Garis Tepi Seorang Lesbiannya Herlinaties, Ode untuk Leopold von Sacher Masochnya Dinar Rahayu dan berbagai nama yang penulis tidak bisa menyebutkannya satu persatu. Dan takpelak lagi jika perilaku sastrawangi ini memenuhi berbagai media massa. Surat kabar, jurnal-jurnal seni dan budaya, hingga televisi yang mengkaji sastrawangi ini habis-habisan. Karya sastrawangi yang fenomenal dan beberapa di antaranya menjadi bestseller tidak terlepas dari karya mereka yang ‘terlalu’ mengekspos unsur seksuali...

puisi kematian

NISAN pada barisan nisan kutemukan doa dan kutukan meruntuhkan langit keangkuhan Taman Kematian, 2008 M SEKITAR PEMAKAMANMU :Alm: KH. Moh. Tidjani Jauhari sekitar pemakaman beburung menabur fatihah rerumputan membaca yasin angin melukis keteduhan dirimu di taman keridloan Taman Kematian, 2008 M BEGINILAH KEHIDUPAN DIBARINGKAN beginilah kehidupan dibaringkan nisan-nisan menentukan pilihan dedaunan mengecup kening bumi hingga lupa kembali pada reranting pohon selalu memperindah sejarah sepanjang perjalanan Taman Kematian, 2008 M

tiga puisi hadiahku untuk indonesia

ANTARA MAWAR DAN CELURIT antara mawar dan celurit madura bangkit mengibarkan merah putih di atas bukit Taman Merdeka, 2008 M PEMUDA, PUISI INI UNTUKMU setelah puisi kutulis untukmu lantas kumengabu kau harus maju kalahkan mesiu kalahkan peluru jangan berhenti jangan berlari indonesia masih butuh suaramu Taman Merdeka, 2008 M MALAM 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL malam ini semua rata tak ada lembah tak ada bukit semua satu nama semua satu bahasa indonesia malam ini semua merdeka tak ada budak tak ada boneka semua bebas bersuara semua bebas angkat senjata melawan penjajah airmata malam ini semua bangkit pahlawan bangkit rakyat bangkit purnama pun tersenyum di atas bukit indonesia jaya menembus langit

Sajak-sajak F. Rizal Alief*

Seperti Perjalanan seperti parjalanan, ketika kita harus sampai pada malam berikutnya dan dongeng pengantar tidur telah berkisah maka kuletakkan mimpi di dasar laut dan dingin biar lelapku tak terus mengutuk ombak seperti perjalanan, malam adalah dingin dan sabda Jogja,2008 Setelah Malam 1 setelah malam, tak kurasakan embun sebagai gerimis hujan di luar rumah masih dahaga dan aku tidak tahu besok pagi di mana kuletakkan matahari Jogja,2008 Setelah Malam 2 setelah malam, diam-diam matahari kecil malu pada air mata yang begitu rela menyimpan setia segala masih perjalanan dan aku ingin kembali malam Jogja,2008 *penulis adalah mahasiswa Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, alumnus PP. al Huda, NASA Sumenep Madura ini telah lama menulis fiksi di berbagai mass media. dan "Sowan ke Malaikat Ridlwan" adalah cerpennya yang terkumpul dalam www.sriti.com. kini tinggal di Jl.Gg Parahyangan Pengok P JKA Blok K GK I/748 Kost Rudal Demangan Gondokusuman Yogyakarta 55221 Hp 081804073...