Langsung ke konten utama

Postingan

Selamat Jalan

Ketika itu remaja saat yang lain terpesona warna-warni kilau dunia Ia renungi hidup di dunia Hidup yang sementara, Dan ia pun temukan Cahaya terangi kegelapan Dan adalah suratan Jika kini ia harus berhenti berjalan, Sekarang kau temukan jawaban, Selamat jalan, hanya doa iringi kepergianmu mata ini kering, bibir ini bisu dan kaupun terbaring tinggalkan hening dalam tidur panjangmu kau bermimpi, malaikat-malaikat menjemputmu seorang diri, membawamu ke tanah asing tempat segala mimpi terbaring kaupun tersenyum, senyum yang sakral ragamu dingin, tapi jiwamu kekal. Masih tentang mimpi kaupun bercerita Mimpi-mimpimu di pagi hari Masih lekat semuanya Indah dalam khayalan Hingga saat kau harus berhenti berjalan Napasmu tercekat di udara Dan apalagi yang kita punya Saat jiwa sudah saatnya pergi Daya apa yang kita miliki Saat semua harus terambil Saat kita harus dipanggil Kita pun berdiri Dengan segala dosa, Apalagi yang kita miliki, Kita hanya setetes air yang hina. Wahai, ini adalah senja te...

Tuan Hujan

Tuan Hujan mengetuk pintu dalam magrib, "Ada yang Bisa Saya Bantu Nona?" Aku menjawab dengan senyum "Mari Duduk, Dan Membunuh Waktu Bersamaku. Sudah Kusediakan Sejumput Chamomile Untuk Kau Seduh. Biar Harum Uapnya Menebar di Makam Waktu yang Tewas Kita Bunuh...... ( Parkiran BNI 46 )

Blument Water

Ricik ricik air menyergap permukaan yang dibuatnya membulat rindu Satu satu mengecup tepian dan pasrah cemburu... Magnolia yag jatuh dingin dibatu, melayangkan harumnya padaku yang tak kunjung lekat, lalu layu dalam sendu.. rooftop wijaya XVI selatan jakarta

Di Malam Turun Hujan

malam ini hujan.... menebar seribu malaikat turun ke bumi yang besok menjelma embun di pucuk-pucuk daun dipagi hari, dan menyempil di kelopak-kelopak bunga penuh rona. melati, kenikir, ataupun kenanga hijau muda. pagi masih lama. baru jam sebelas lewat lima. disetiap ruang, tiba-tiba ada rupamu yang tak bernama. dalam setiap raut, tersenyum ataupun manyun. mencibirku di koridor-koridor menuju pintu, ataupun dibalik-balik baju perawar-perawat itu. membenamkanku ke laut yang membuat darahku berdesir menafsir dalamnya, menyergapku ke langit abu yang ku bergetar karena luasnya. aku lunglai dan lelah... mengenangmu tanpa batas... dan gapai yang tiada guna fiuuhh..... akankah aku jeda dan jera? di bulan-bulan berikutnya di musim bunga menebar aroma dan aku segar menghirup harumnya..... sentul selatan, nov 05 2007 (Ketika seorang teman patah hati...)

Setetes Sajak; hujan untuk Raina

Raina… Seperti hujan kau di negeriku Mencipta kemarau rindu jika lama tak datang Dan banjir membawa air mata jika kau datang :sedang aku takut pada hujan. Kini kau sering datang, Raina Menyapaku yang sendiri di ujung sunyi negeri sepiku Kau selalu turun menemuiku Menanyakan tentang aku, yang masih tak bisa tidur ketika malam menjelma pelaminan yang masih sering menulis puisi kepada hujan yang tak pernah lupa menyapa mentari dengan nyanyian sunyi dihalaman pagi. kau selalu datang, Raina. kau pun selalu bertanya, Raina. Tapi kau tak pernah bertanya tentang setetes sajak yang menetes dipelupuk mata cintaku Saat kau selalu datang seperti hujan. “sajak itu hanya untukmu, Raina.” Jogja, feb 08

Puisi-Puisi Teguh Trianton

Sajak – Sajak Teguh Trianton Wasyamsy demi matahari yang terbit dari larut gundah di batin jika malam ini kau asah pisau dan gali kubur untukku esok pagi, untailah fatehah tebar syahadat pada nisan di jantungku Purbalingga, April 2007 Walqomari demi temaram bulan di langit batin segala magma membuncah menyaksikan ritual terindah masokis hati di malam nelata Purbalingga, April 2007 Kepada I malam ini, akan kubentangkan kanvas dari batas magrib hingga ujung negeri subuh akan kulukis hujan dan namamu sehingga tiap orang tahu sehelai sungai bening yang mengalir di bantinku adalah kau Purbalingga, April 2007 Sajak – Sajak Teguh Trianton Walaieli demi malam yang rapuh sesungguhnya tiap airmata yang gugur dari ranting tahajud menjadi sungai pelirih pinta yang maha kekasih atas ridlho-mu, kupinang matahari bersanding nafasku Purbalingga, April 2007 Wadhuha demi matahari sepenggalah batin sujud dan rinduku tak sebanding embun yang merayap, memanjat, menggapai cahaya di antara celah-celah daun d...