Langsung ke konten utama

Postingan

Yang Tak Selesai

Ada yang tak selesai kubaca sisa lumar senyummu di kaca jendela kereta ketika engkau menuju rimba misteri memekik terdiam pagi ini ada yang tak selesai kutanya merah matamu membelaiku sembab bergantung tlah cerita ditingkah isak irama mengepung risau terbata-bata ada yang tak selesai kulukis segerombolan kenangan di belukar silam terburu perih memaksa pulang lepas sendi-sendi angan mengadu muram kepada hujan Jakarta, 2007

Mengantar Emak pulang

kubisikan selepas kata yang menempel pada ujung lidah, halus-halus seperti merangkum doa dalam sanubari yang terjerat haus. rebahmu dalam pengakuan pasrah, melumerkan mata hati dan sanubari yang berang. emak, sampai kapan kamu tersesah begini? hambar bagaikan salju dipelosok jurang getir. empasakan empati palsu dalam jiwa mudaku yang angkuh, merogoh kedalam kecintaan perihal adaku atas ambisimu menerjang maut. emak, aku terjuntai disamping ranjang rebahmu mata kuyup dan lidah kelu merapal doa sungguh. hanya aku yang iringi kamu menuju kampiun malam, ihwal akhir perjalanan dari serpihan hidupmu yang karam emak, saat doa itu kau sambut. dimanakah engkau sesungguhnya? mengerang diatas lukakah? atau sudah dalam tajuk istirah? hati ini benar-benar hancur, Emak... lantas kau berlalu saja, sandarkan aku dalam elegi dan dilema akar pahang hidup kujelang, tanpa sejiwa seperti emak. lalu doa lewat saja tak digubris Tuhan. semua sirna dan perlahan hidupku juga, tanpa Emak... ya Bundaku... ya bint...

Dari Uti Untuk Nou

Bermainlah di atas lembar-lembar bahasa Jangan dulu ingat pulang Sebab di rumah ayah menanti Bersama pak imam dan lainnya Hendak tentukan waktu Kapan dutu digelar Merayaplah dibawah lipatan permukaan bab Jangan dulu berdiri Bukan arang tujuan tunggal nasib Pula lelap diatas ranjang Setelah air susu mengering Sedang usia baru dimulai Mencontohlah pada yang patut Yang telah rela menelan sakit Karena jiwa perlawanannya dilecehkan 5 September 2007 Uti : Panggilan untuk lelaki Gorontalo Nou : Panggilan untuk wanita Gorontalo Dutu : Acara peminangan

Puisi : Untuk Semua, Milik Semua

Dihalte-halte, metro mini, mahal senyum Udin kecil masih berlari diujung gerimis Gerimis dari awan diujung kelam Gerimis disudut mata dari nasib kaum urban Bawa berdesir mungkin derita akan hilang Sorot matanya masih menyiramkan sebuah semangat Semangat berebutan recehan pengganjal muram Puisi panjang yang tidak dimulai hari ini. Butet kecil dan ucok bayi di gendongan Masih termangu disudut stasiun kota Sampai kereta tiba-tiba langsam distasiun Diperon-peron, bangku tunggu, masih mahl senyum Kaki-kaki kecil berebutan mengejar kereta “Hanya kereta langsam distasiun?” Dibotol-botol pelastik kereta ada secercah harapan Agar ucok digendongan bisa jadi pejabat Mimpi-mimpi yang melahirkan puisi tanpa aksara Puisi panjang yang tidak dimulai hari ini Diradio-radio, televisi, surat kabar, masih mahal senyum Bukannya dibawah gerimis diujung kelam Tidak berebutan recehan dan tidak mengejar kereta langsam Ada kita yang mengejar makna Merubah bahasa berebutan recehan pengakuan Berebutan satu-s...

Pelayaran Terakhir

Inilah kali terakhir aku berlayar setelah mengarungi buas samudra dalam jiwa yang bergejolak mengenang kembali tiap detik perjalanan yang melekat erat dalam tingkap-tingkap kalbu yang tanpa sadar telah mengantarku di ambang batas di mana nahkoda harus merapat ke dermaga meninggalkan bunyi gaduh dari ombak yang menghantam lambung kapal hingga setiap perjalanan hanya akan menjadi cerita yang tak akan pernah habis bagi anak cucu Surakarta, 2 Mei 2007. ***

Sajak-sajak F. Giet Marta

HUJAN BERBILANG Hujan malam ini adalah hujan terakhir yang ikut menyertaimu Dikelinkingnya telah terselip kafan berwarna merah, kuning dan hitam Merintik, mendingin, meluntur diikat hujan-hujan bulan Juli Hujan malam ini, hujan penghabisankah ia ? Agustus tersembunyi dikerudung hujan berbulan lalu Disemua telunjuk kadang mengiang decak terhenti Dan hujan kini telah reda Hanya mengais sisa serdadu-serdadu untuk berlanjut. Padang, 19 Agustus 2007 SENJA, HUJAN TERLELAP! Senja akan telah kuketahui Siaplah ku menjunjung hujan hingga dini nanti Kan ku tengok rintiknya dengan senyum tertetes Dan ku kan terbit di ufuk barat Di denting menghadap timur menyelaksa berpijar, mengelilingi hujan disisi jendela, yang tutupkan galau bertitip rindu ditelaga ujung jalan Dentingnya menyeruak ketika ku berteduh kemudian terdiam tertatap dibias yang ia bentuk sendiri, Aku disamping menyeka ampas gundah ditautan tanpa senja Ia kungkung segala bias senja dalam kantong-kantong bajunya Tiada kan kulihat...

Gravitasi di Keningmu

di keningmu. telah aku lama menerka-nerka jalan yang patut untuk kubaca bersama angin disanalah pelan kau menyindirku dalam sejemput malam yang buat aku gamang “keranjang apa kiranya yang kau bawa bersama kereta kuda” selalu demikian. kau pampang pintu lebar yang bersahut-sahut memanggilku untuk duduk bersila “ambil lah sesukamu saja!” sembari menyodorkanku segala apa kau punya—walau hematku biasa saja tapi di keningmu menyayat garis lurus berlampu gemintang yang sedang aku tuju hingga keningku keningmu sepadan diadu dan hai!—jembatan tak terbangun dari pohon-pohon keningmu Padang, 2007