Langsung ke konten utama

Postingan

Revitalisasi Sastra Jawa Timur : Menolak Pemetaan Sastra Utan Kayu

Tanggal 20 Agustus 2007 Dewan Kesenian Jawa Timur mengadakan acara Temu Sanggar Sastra Se-Jawa Timur dengan tema Revitalisasi Sastra Jawa Timur: Menolak Pemetaan Sastra Utan Kayu dengan pembicara Dr. Putera Manuaba, Herry Lamongan, W Haryanto, Helmy Prasetya. Acara bedah buku Hujan Sebait Lipat Dalam Surat: Antologi Penyair Mutakhir Jawa Timur mengambil tempat di Bekas Gedung Museum Mpu Tantular Surabaya, Jl. Taman Mayangkara Surabaya, Jam 9 s/d selesai. Acara terbuka untuk umum. Informasi lebih lanjut hubungi W. Haryanto (085649729861)

Surat kecil

Setiap mimpi berujar kepedihan menghujam rindu padamu jiwa yang memenuhi sudut-sudut kepingan lara, tersayat luka bunda menerka itu hanya fragmen tak berkulit sepi namun kau pergi entah kemana hanya sepucuk daun pala yang kau letakkan diatas meja kamar bunda itu bukan pengobat rindu kau salah nak, jika pagi esok ada, usap matamu saat sinarnya merajam setiap helai bulu matamu seraya kau berucap “pagi lesuh, tak ada gambar bahagia Pada kehangatan malam, selain pelukku, bundamu” ku dengar itu, dan ku tunggu kau kembali Darussalam, 26 Februari 2007 # Puisi ini dimuat di Harian Aceh

Di Sela Waktu

di sela waktu. jarum jam henti berdetak. dimensi tuntun khayal pada titian gelombang pasang. aku terjerembab diatas pasir berdesir perlaha., dihantar angin sunyi pantai suram. nuansa senja menyepuh mega dipaksa temaram. walau hanya tergores sebait. serupa goresan kuas cat tembok basah. masih ada kepak burung layang di mega utara. kemana dia hendak pergi? arah tentukan pertanda. dan tandatanda akan bermain bersahutan. seperti berita dari penujum yang dibawakan gemuruh handai tolan. dan adanya ia seumpama garis yang mengikuti jalan patahpatah. selalu : cabangcabang membentang pilihan namun ini waktu terhenti. hanya desir ombak yang mengalun mesra. seperti ingin mengajakku bermain sementara. ada yang datang kembali. ada yang telanjangi hati. namun ini waktu terhenti. hanya gelombang pasang yang datang kemudian. memangku buihbuih rindu bergelombang. angin memainkan harpa sendu diikat bau anyir punggung pantai. serasa tiada kehendak mainkan lengkingan hingar karena yang ada hanyalah lirih m...

Memastikan Hati (yang tertunda)

tak ada pernah kabut ragu diantara telaga maya kita airnya tenang, sejuk nan damai selalu mampu melepaskan dahagaku dan dahagamu yang menghantui mimpi tidurmu, adalah kepastian didunia realitas walau sesungguhnya hanya dengan telaga maya itu saja aku telah yakin dan tak akan pernah kecewa namun dunia realitasmu penuh timbang rasa penuh himpitan kesepian yang kau sendiri tahu bahasanya dan kini ketika kepastianmu itu harus tertunda basah matamu membanjiri sampai sepiku disini menyeret membenamkan aku kedalam lautan ketakutan lorong panjangku yang semula terang oleh kilau genggaman permatamu semakin memanjang dan sesekali aku tergugah habis nafas terkesiap oleh hilangnya suaramu sayup sayup aku berlari mengejar tak hiraukan diriku yang tertinggal aku berlari terus hingga jangan mengecil terangmu hingga masih sanggup kudengar suaramu hingga tak lagi tahu kemana wujudku bersisa Hiroshima, Tuesday.2006.08.29.16:25

Dijalan Pulang Nanti

dijalan pulang nanti apalagi yang tersisa nanti ? andai ketika harus menyusuri jalan berlubang berdebu mahoni dengan daunnya menghitam sampai pada pagar hijau kusam berkarat depan rumah lalu menjumpai pintu masuk yang tak lagi tersenyum menyapa seperti biasa langit-langit menatap muram digelayuti jerat nestapa memar yang tergurat didinding masih mengumbar duka lama gema jerit riang anak-anak berlarian tak lagi terdengar ruang tengah tak lagi menggugah canda semua ditelan sepi, sepi dan pahit kenang didalam enggan tuk berpindah sepi ketika pergi dan masih sepi ketika kembali jika ada lalu lalang tatap tajam mata yang menghampiri sepi ini menjelma hanya jadi resah membayang semua itu dijalan pulang memberat langkah dengan beban bimbang tak ada lagi harapan disitu tak ada lagi yang tersisa sudah biarkan terkubur waktu dan musnah namun cercahMu diarah lain terbentang menanti dengan cinta memintaku pulang kepelukannya Hirokosaten Kure Hiroshima, Monday.2006.09.04.00:22

Menyelami Lubuk Sendiri

ketahuilah, aku sperti mencari dibalik dinding kaca ketika jumpa usai sebelumnya ada kau tersenyum manis menukar manja dengan kata-kata bertebangan disekitar bolamata sesekali kau terlihat selebihnya sirna dan aku, menunggu disudut malam terpaku dingin diam beku diam ini adalah diam menyelami menyelami lubuk sendiri yang lama kosong kutemukan disitu :senyummu rebah dengan tenang dipangkuan ditebari aroma melati kata dihujami rindu Hirokosaten Kure Hiroshima, dinsdag.2006.11.23.02:54

Malam Ke Sekian

malam ke sekian, aku lukis benci pada pertemuan ombak dan pasir, sisa risik hujan, juga wajah-wajah lengang nelayan sajak-sajak berpulang tanpa arti, para pecinta tak memiliki mimpi beratur-ratus   di sebalik sunyi, denyar hati pecah keterpurukan jadi mahir mengakrabi   081553979xxx