Jangan biarkan gulita menyajikan tarian sumbang di bilik-bilik nurani hingga tersekat, pepat Lalu hati mati. Menutup mata meski keadilan pincang, Tuhan Betapa banyak, rentanya di tangkup pertiwi ini Anak-anak yang harus menopang deru memburu Dan memeta arah angin nasibnya sendiri Demi segelontor asa yang menggantung Di antara sedu dan pahit hari Pada ladang-ladang harapan yang makin sempit Tangan-tangan kecilnya yang mengais puing kelaliman Di bawah tatap matahari yang membakar jiwa Anak-anak pula yang memahat impian dari balik Selimut gelap, malam terbentang Lalu hujan, mengaromakan anyir kerakmata ...