Kau anak perkasa turun dari geliat dermaga
Memandang senja yang menelan terik
Menyelami keping-keping
Kau anak bahagia
Memerdukan jalanan
Menerbit keriangan
Kerlap-kerlipnya
Sandaran letihmu
Kau anak cerdas
Memungut sisa-sisa
Menghitung dengan cermat
Memilahnya tekun dan teliti
Kau anak belia
Dan ramah
Pada siapa pun tersenyum
Gincu itu terlalu muda
Di bibirmu
Setiap geliat telah membekas di tubuhmu
*
Wahyu Heriyadi lahir di Ciamis, 04 April 1983.Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung angkatan 2001. Saat ini penggiat Bengkel Jurnalisme di Bandar Lampung sebuah komunitas tempat sekolah dan diskusi mengenai jurnalisme bermutu
Puisi Nominasi Sayembara Puisi Puitika Edisi April 2006
Dengan Tema " Anak-anak Kita, Anak Indonesia"
Komentar Dukungan
Komentar saya mengenai puisi ini yaitu:
dari isi puisi ini memang sungguh sangat menyentuh terutama hati saya karena mengangkat masalah sosial, kepudilian terhadap sesama serta mengedepankan masalah kerja keras yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang bukan hanya orang-orang yang cerdas saja. tetapi juga puisi ini dari segi bahasa kurang mudah dicerna dan gaya bahasa kurang bagus. ok itu aja deh.
trims
"Ahmed mustain" <ahmed_recht@yahoo.com>
_______________________________________
Anak Kita
"Denny rewansyah" <rewansyah@yahoo.com>
________________________________________
begitulah keadaan generasi kita
lalu bagaimana?
benar, bahwa kebahagian mereke hanya mereka yang tau
bukan pada kemewahan tapi kebahagiaan
bukan rumah tapi kenyamanan
makhluk-makhluk indonesia mencari kebudayaan
bukan kesenangan-kesenangan semu
puisi penuh keterwakilan akan arti ke indonesiaan
yang begitu rupa
dan segala kenyataan sebuah realitas yang dipaksakan
ah memang selalu begitu
"welovemoslem moslemworld" <welovemoslem@yahoo.com>
_____________________________________________________
komentar dari saya mengenai puisi yang berjudul Anak Kita, kalau di lihat segi
bahasa terlalu berlebihan,sehingga terkesan tidak nyambung antara bait yang satu
dengan baik yang lain, kurang bisa dipahami bagi orang yang pertama kali membaca
puisi ini,apalagi bagi orang yang memang tidak berbakat dalam puisi. namun kelebihan dari puisi ini, dari segi temanya karena mengangkat tema sosial bagi anak jalanan, pekerja seks komersil (psk), pengamen dan anak yang berlomba mencari kepingan uang di laut. ya itu aja komentar dari saya. !!!
"reni enggraini" <rhenie_crui@yahoo.co.id>
____________________________________
Puisi yang berjudul anak kita telah sesuai dengan tema yang diangkat. Tampaknya sang penulis terinspirasikan dengan tema anak yang berkenaan dengan kondisi anak di Indonesia, kondisi yang sebenarnya carut-marut dengan berbagai persoalan
multidimensi, hanya saja sang penulis membaliknya menjadi sebuah harapan yang
mengangap bahwa anak Indonesia "enaknya" memang seperti itu dalam menghadapi
problema, seperti yang terungkap dalam bait: Kau anak cerdas...Memungut
sisa-sisa...Menghitung dengan cermat...Memilahnya tekun dan teliti.... seakan-akan
menginginkan asa bahwa anak Indonesia seperti itu. Walaupun kita tahu, setting
sosial yang di tampilkan, seperti: dermaga dan jalanan, tidak pernah kita temui
kondisi yang diidamkan. Jadi ini sebenarnya sebagai puisi yang bercorak kritik
sosial.
"kiki an sich" <kiki_ansich@yahoo.com>
___________________________________
puisi ini menggambarkan berbagai kondisi anak-anak di negara kita, ada yang sebagai anak jalanan, pemulung, penjaja harga diri dsb. memang begitulah kondisinya dan saya mendukung sekali atas puisi yang ditulis ini. semoga penyair terus dapat mengembangkan tulisan2nya dan salam suksess!!
"astri handayani" <barbac4i_hyan@yahoo.co.id>
________________________________________
Komentar saya terhadap puisi ini bahwa puisi ini
menggambarkan suatu kehidupan nyata yang dilihat dan
diilhami berdasarkan kejadian-kejadian yang sering dilihat
oleh penulis.salah satu kekurangan dari puisi ini adalah
penulis kurang begitu spesifik menggambarkan dua karakter
subjek yang hendak diceritakan dalam puisi tersebut
sehingga pembaca sulit sekali menerka makna apa yang
terkandung didalamnya.
"Dian reka putri" <dian_kirei@plasa.com>
_____________________________________
begitu mencerminkan sebuah anak, yang menjadi lecutan untuk orang yangberpredikat "tua", atau kita akan tergerus dengan citra puisi ini, ohbegitu menggurat dalam uraturat kata, kamu memang penyair kawan!!!!
"aa ge" (exsmundak@sundanet.com)
_____________________________________
memang kita puisi begitu menembus katakata adakah kita mampu membuang muka begitulah syahdan karena jasad ada dan anakanak kita begitulah atau begitu? yah, gimana dunk lalu, kita tersipu malu-bisu
tabek
"whiji tukul" (wiji_tukul@yahoo.co.id)
_________________________________
_______________________________________
Anak Kita
"Denny rewansyah" <rewansyah@yahoo.com>
________________________________________
begitulah keadaan generasi kita
lalu bagaimana?
benar, bahwa kebahagian mereke hanya mereka yang tau
bukan pada kemewahan tapi kebahagiaan
bukan rumah tapi kenyamanan
makhluk-makhluk indonesia mencari kebudayaan
bukan kesenangan-kesenangan semu
puisi penuh keterwakilan akan arti ke indonesiaan
yang begitu rupa
dan segala kenyataan sebuah realitas yang dipaksakan
ah memang selalu begitu
"welovemoslem moslemworld" <welovemoslem@yahoo.com>
_____________________________________________________
komentar dari saya mengenai puisi yang berjudul Anak Kita, kalau di lihat segi
bahasa terlalu berlebihan,sehingga terkesan tidak nyambung antara bait yang satu
dengan baik yang lain, kurang bisa dipahami bagi orang yang pertama kali membaca
puisi ini,apalagi bagi orang yang memang tidak berbakat dalam puisi. namun kelebihan dari puisi ini, dari segi temanya karena mengangkat tema sosial bagi anak jalanan, pekerja seks komersil (psk), pengamen dan anak yang berlomba mencari kepingan uang di laut. ya itu aja komentar dari saya. !!!
"reni enggraini" <rhenie_crui@yahoo.co.id>
____________________________________
Puisi yang berjudul anak kita telah sesuai dengan tema yang diangkat. Tampaknya sang penulis terinspirasikan dengan tema anak yang berkenaan dengan kondisi anak di Indonesia, kondisi yang sebenarnya carut-marut dengan berbagai persoalan
multidimensi, hanya saja sang penulis membaliknya menjadi sebuah harapan yang
mengangap bahwa anak Indonesia "enaknya" memang seperti itu dalam menghadapi
problema, seperti yang terungkap dalam bait: Kau anak cerdas...Memungut
sisa-sisa...Menghitung dengan cermat...Memilahnya tekun dan teliti.... seakan-akan
menginginkan asa bahwa anak Indonesia seperti itu. Walaupun kita tahu, setting
sosial yang di tampilkan, seperti: dermaga dan jalanan, tidak pernah kita temui
kondisi yang diidamkan. Jadi ini sebenarnya sebagai puisi yang bercorak kritik
sosial.
"kiki an sich" <kiki_ansich@yahoo.com>
___________________________________
puisi ini menggambarkan berbagai kondisi anak-anak di negara kita, ada yang sebagai anak jalanan, pemulung, penjaja harga diri dsb. memang begitulah kondisinya dan saya mendukung sekali atas puisi yang ditulis ini. semoga penyair terus dapat mengembangkan tulisan2nya dan salam suksess!!
"astri handayani" <barbac4i_hyan@yahoo.co.id>
________________________________________
Komentar saya terhadap puisi ini bahwa puisi ini
menggambarkan suatu kehidupan nyata yang dilihat dan
diilhami berdasarkan kejadian-kejadian yang sering dilihat
oleh penulis.salah satu kekurangan dari puisi ini adalah
penulis kurang begitu spesifik menggambarkan dua karakter
subjek yang hendak diceritakan dalam puisi tersebut
sehingga pembaca sulit sekali menerka makna apa yang
terkandung didalamnya.
"Dian reka putri" <dian_kirei@plasa.com>
_____________________________________
begitu mencerminkan sebuah anak, yang menjadi lecutan untuk orang yangberpredikat "tua", atau kita akan tergerus dengan citra puisi ini, ohbegitu menggurat dalam uraturat kata, kamu memang penyair kawan!!!!
"aa ge" (exsmundak@sundanet.com)
_____________________________________
memang kita puisi begitu menembus katakata adakah kita mampu membuang muka begitulah syahdan karena jasad ada dan anakanak kita begitulah atau begitu? yah, gimana dunk lalu, kita tersipu malu-bisu
tabek
"whiji tukul" (wiji_tukul@yahoo.co.id)
_________________________________
Komentar
Posting Komentar