Langsung ke konten utama

Kebijaksanaan Bagi Anak-Anak


   
  Ada anak-anak dalam kalimat kebijaksanaan
  biar anak-anak datang
  dengan tangan yang berlepotan lumpur
  dengan kaki kecilnya yang kotor oleh pasir
  dengan mulutnya yang mengulum salju
  dengan pipinya yang merah bunga mawar
   
  biar mereka datang
  biar mereka datang
   
  dan tangan kita terbuka
  menyambut jiwa yang polos, lucu dan unik
  biar kita bisa tertawa
  biar kita bisa menangis
  bersama tawa dan tangis mereka
   
  biarkan mereka datang
  biarkan mereka datang
   
  dengan keluh kesahnya
  dengan rasa takutnya
  dengan kesedihannya
  dengan kerinduannya
  dengan kecemburuannya
  dengan gairah dan semangatnya
  dengan cengengnya
  dengan nakalnya
  dengan segala hal tak masuk akal daripadanya
   
  biar saja mereka datang
  biar saja mereka datang
   
  karena mereka butuh sentuhan lembut mentari
  ciuman rembulan
  belaian awan
  dorongan sungai
  penerimaan laut
  penghargaan gunung
  pemahaman lembah
  pengakuan bintang
  perhatian bumi
  karena mereka cuma kanak-kanak
  cuma kanak-kanak milik kita
  dan dalam jiwa mereka yang putih
  kita semai kebijaksanaan surgawi.

*
Titon Rahmawan, Sarjana Teknik Arsitektur lahir di Magetan pada tahun 1969, beberapa karya dapat ditemui di situs Cybersastra.net dan beberapa milis-milis sastra baik dalam bentuk puisi maupun esai.  Beberapa karyanya tergabung di dalam antologi bersama “Dian Sastro For President #2 Reloaded” (ON/OFF, AKY 2004) dan “Sastra Pembebasan” (Yayasan Damar Warga, 2004) saat ini masih bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan property di Jakarta.

Puisi Nominasi Sayembara Puisi Puitika Edisi April 2006
Dengan Tema " Anak-anak Kita, Anak Indonesia"




Tanpa Komentar Dukungan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...