Jangan biarkan gulita menyajikan tarian sumbang
di bilik-bilik nurani hingga tersekat, pepat
Lalu hati mati. Menutup mata meski keadilan pincang, Tuhan
Betapa banyak, rentanya di tangkup pertiwi ini
Anak-anak yang harus menopang deru memburu
Dan memeta arah angin nasibnya sendiri
Demi segelontor asa yang menggantung
Di antara sedu dan pahit hari
Pada ladang-ladang harapan yang makin sempit
Tangan-tangan kecilnya yang mengais puing kelaliman
Di bawah tatap matahari yang membakar jiwa
Anak-anak pula yang memahat impian dari balik
Selimut gelap, malam terbentang
Lalu hujan, mengaromakan anyir kerakmata
Tumbuhkanlah jiwa-jiwa yang kesatria
Yang mematri sekepal perjuangan di taman hati
Tuhan
Nyalakanlah lentera, yang kan menebar cahaya
Di lorong-lorong gelap pengharapan, untuk
Anak-anak di tangkup pertiwi ini
Karena pada tangan-tanganya kelak
Di usung panji-panji. Dan pula yang akan
Mengarahkan mata lembing pertiwi ini, pada
Tampuk sejarah peradaban
Manusia Indonesia berikutnya
*
Shafitri Diniarti berasal dari cilacap, kini menjadi BMI di Hongkong. Selain menulis puisi juga menulis cerpen, dan karya-karya saya di muat di majalah Peduli, Ekspresi yang terbit di Hongkong
Puisi Nominasi Sayembara Puisi Puitika Edisi April 2006
Dengan Tema " Anak-anak Kita, Anak Indonesia"
Tanpa Komentar Dukungan
Komentar
Posting Komentar