Langsung ke konten utama

Perempuan yang Menyulam di Tepi Sungai

Kusulam sungai dengan tangan yang sakit,
dengan bergelas-gelas kopi, dengan seluruh ingatan
buruk yang bergelantungan di rambutku. Entah
dari hulu yang mana sungai ini datang, membelah
kota, seperti juga entah sejak kapan aku
berada dalam kamar ini

Buih dan arus air terus menyerbu tanganku

Di antara gulungan benang, rokokku berulangkali
padam. Jauh ke pusat malam tubuhku semakin kurus,
ginjalku kerap terasa sakit. Tapi sebaiknya tak ada
yang harus kupikirkan. Juga orang-orang yang saling
berbisik, mengancamku dengan seekor anjing
dalam kepalanya

Tanganku terus menyulam,
bergerak di antara air dan ikan-ikan,
menjadi rakit dan jembatan

Kunyalakan pemanas air. Di luar
suara hujan seperti derap sepasukan berkuda
seseorang melintasi kamar tergesa, lalu membanting
pintu. Seorang lelaki mengeluh di seberang sungai,
di depan sebuah lukisan. Tubuhnya terikat
di tiang kayu yang terbakar, kulitnya mengelupas,
tulang-tulangnya merah

Kusulam sungai dengan gambar-gambar
tubuhku sendiri, dengan bergelas-gelas kopi,
dengan perempuan lain yang menatapku dari dalam
cermin. Ah! Menjadi perempuan adalah menyulam
baju hangat bagi para lelaki. Tapi sebaiknya tak ada
yang harus kupikirkan

Dalam sulamanku lelaki hanya sepasukan
berkuda tanpa kepala

Kusulam sungai dengan bergulung-gulung
benang yang mengurung tubuhku. Di luar hujan
melewati jembatan. Kopiku habis dan rokokku
padam lagi, sedang handphoneku jatuh ke dalam
air. Sungai terus mengalir ke dalam sulamanku,
menjadi laut dan tubuhku. Suatu hari,
ombak dan gelombangnya

akan sampai padamu!

2006
Ahda Imran

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......