Langsung ke konten utama

“INSYAF”

Kulihat, jemarinya mengacungkan satu jari, jari telunjuk. Manakala dia bangun dan duduk dari sujudnya, lantas bacaan takhiyyat melantun. Kulihat, kepalanya yang menggeleng ke kanan dan ke kiri, seraya mengucapkan salam pada seluruh mahluk yang ada di sisi kanan dan sisi kirinya.

Ya, kulihat jari jemari otak, dan hatinya saling mengacung, menunjuk pada apa yang hendak digapai dan bahkan seperti di pertuhankan.
Ya, kulihat kaki dan tangannya saling sikut dan mendepakkan ke arah sesamanya di dunianya ketika mereka saling mendekat untuk menggapai tuhan-tuhan yang lainnya

Kulihat engkau terkejut, ketika kami membicarakamu. Aku hanyalah selembar sajadah yang senantiasa melihatmu bermunajat kepada Nya, sungguh aku tak punya daya, ucap sajadah yang terlihat ketakutan melihat sang tuan dengan sorot mata yang tajam yang ditujukan ke arahnya.

Aku hanyalah dasi, sapu tangan, pena, handuk pengusap keringat, dan lain-lain alatmu ketika engkau bekerja, sungguh aku tak punya daya, sahut dasi, sapu tangan, pena, handuk, dan yang lainnya seraya memohon untuk tidak dicampakkan

Mata melototnya yang bahkan hampir saja keluar hendak menelan mereka, meredup sayu bahkan tersedu-sedu menangis. Tuhan, mereka membicarakanku. Lantas lelaki itu jatuh di perengkuhan lantai merebahkan sujudnya.
Dalam hening, sunyi, sepi di tengah siang bolong itu, “aku bukanlah hamba Mu yang patut engkau ampuni ya robby. Aku adalah orang-orang yang menyekutukan Mu dengan tuhan-tuhan uang, jabatan, popularitas, dan lain sebagainya. Aku adalah orang yang bukan senantiasa mendoakan keselamatan bagi sesamaku”.

Lantas kemudian, ronce-ronce yang ada di tepian atas dan bawah sajadah, membisikkan, bahwa memang seharusnya sholat kita menjadi perisai

Pekalongan, 13 november 2007

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Puisi-Puisi Emong Soewandi

MOSAIK SEBUAH JEMBATAN KEDUKAAN kedukaan kini mesti diseberangi dengan berat yang mungkin tak terimbangkan antara aku dan keinginan, serta hati yang telah tertatih membimbing imajinasi ke puisi romantik tentang laut dan pelangi. maka jadilah bentuk dan garis bersinggungan tak-beraturan tanpa pangkal tanpa akhir tanpa isi tanpa tubuh adalah kegelisahan sebagai sandi-sandi rahasia yang memerlukan kunci pembuka diikat dengan rantai-rantai matahari ambang fajar. namun selalu saja lupa dimana ditaruh sebelumnya atau, mungkin telah lolos dari kantung untuk ingkari kesetiaan janji tentang bertanam benih di lahan yang baik ah, tentu butuh waktu untuk menemukannya sementara galau telah sampai di puncak tanpa purna-kepastian bengkulu, oktober 2005 LALU KEMARAU DI BULAN KEEMPAT belum ‘kan ada bunga kopi mekar, yang tegak di atas cadas. di antara daunan yang terkulai ditampar kering bumi. yang memang sulit tepati janji berikan mata air. maka jadilah pagi hari kita cukupkan saja dengan selemba...

Ayip Rosidi

Pengarang, editor, Ketua Dewan Pendiri Yayasan Kebudayaan Rancagé, Ketua Pendiri Yayasan Pusat Studi Sunda. Pernah bekerja sebagai pengajar bahasa dan kebudayaan Indonesia di Osaka Gaikokugo Daigaku (1981-2003), di samping mengajar juga di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daigaku (1982-1995), Jepang. Memprakarsai pelembagaan Hadiah Sastra Rancagé sejak 1989, dan memprakarsai penyelenggaraan Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) 2001 di Bandung. Menulis sejak remaja, baik dalam bahasa Indonesia maupun Sunda. Buku-buku karyanya, lebih dari seratus judul, antara lain berupa roman, koleksi puisi, koleksi cerita pendek, memoar, dan biografi.