Langsung ke konten utama

Sajak Dody Kristianto

KRUPUK

bisikmu menggema, ketika aku menolak jadi pelengkap gagap
pada santap nan lezat, ramai kenduri di beranda

aku sudah dewasa, dalam pertapan maha tak ada,
kau ijabkan aku dengan nasi jantan,
nasi yang membuat romamu abu dan keringku jatuh,
sejatuh lekuk samsara

sanggupkah aku berlindung dari liuk pepasir
sebab lahirku dari debu sebutir, halus kanji terigu
dan tangan tak henti menimang tembang :
membentuk lamat kusam

sampai aku dijeram di siang matang
menunggu tubuh kurus kerontang
untuk dibudak dalam kelam
sekelam ingatan masyuk dalam pendiang

akhirnya, minyak jahanam merendam tubuh
hingga tumbuh wujud gemaruk, melambai mata
padahal rasaku tiada


2007

Komentar

  1. maaf. aku tidak bermaksud mengomentari sajak-sajakmu meski sudah beberapa kali kamu memintaku untuk mengomentari itu. tak ada alasan untukku mengapa tak ingin mengupas sajakmu terlalu jauh karena kau sendiri masih terus belajar, dan dalam proses belajar itu, kurasa tak ada salahnya kita sedikit berbagi.
    tanpa ada niat untuk menjadi lebih pintar sendiri, bukan?
    dari sajak-sajak yang sudah pernah aku baca sebelumnya, sajak ini sudah ada peningkatan dalam hal imajinasi. namun menurutku sajakmu masih belum berbagi dengan pembaca/orang lain. beberapa diksi sudah kuat namun terpatah atau tak selesai. sajakmu berjudul krupuk namun aku tak melihat hal lain yang ingin kau garap dalam filosofi krupuk itu sendiri. hal klise/ umum masih aku temukan

    oke, aku rasa seitu aja dulu, aku tak mau terlalu banyak. tetap mencari dan tak pernah lelah untuk mencoba.
    selalu rendah hati dan mau berbagi dengan siapa saja.
    salam.

    BalasHapus
  2. Kamu ternyata 'masih muda'. Semua ciri 'kemudaan' ada pada kamu. Dewasalah!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......