Langsung ke konten utama

Kata

KataApa yang anda harapkan ketika membeli antologi puisi penyair Bakdi Soemanto yang sekaligus Profesor di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada? Tentunya sebuah keniscayaan, keniscayaan akan kata -kata yang menggeliat bebas di ruang-ruang kontemplatif yang akan mengajak anda berfikir jauh dibaliknya. Kumpulan puisi yang ditulis periode 1976-2006 sebanyak 101 puisi mengajak anda mengenal sosok penyair lewat kompleksitas dirinya sebagai seorang budayawan, penyair, sekaligus akademisi. Nikmati "KATA"!

Kata


Bakdi Soemanto

Penerbit Bentang
Cetakan Pertama, Oktober 2007
136 Halaman
ISBN 978-979-1227-14-8

Beberapa puisi dari antologi "KATA" :

Penyair


Bersama sebatang rokok
yang saya nikmati
dengan minum kopi
saya telah berubah
menjadi asap
dan terbang
membubung tinggi
ke langit mimpi
di mana hidup
tak dibagi malam dan hari.

"Penyair,
kembali ke bumi!"
Saya tersentak
dan sadar
akan tubuh
yang badani.
"Penyair,
kembali ke bumi!"
Suara keras
mengguncang diri.

Saya melihat ke kiri
dan ke kanan
lalu menatap tangan saya sendiri.
Astaga
di tangan saya hanya
sebatang pena
dan secarik kertas
di atas meja.

Benarkah
saya ingin mengubah
dunia?

[Oberlin, 1987]

Ulang Tahun


Hari ini ulang tahunmu
kata lelaki itu
kepada sebuah foto.
Lalu,
lelaki itu mengubah dirinya
menjadi sebuah foto pula.
Di jagad foto itu,
mereka bercintaan,
tanpa mengenal siang dan malam.
Mereka merasa tanpa batas
dan memang berada di luar ukuran kita.

Hari ini ulang tahunmu,
kata lelaki itu kepada sebuah foto.
Lalu hari berubah menjadi biru,
hidup seperti fatamorgana,
dan musik walsa terdengar perlahan

Sejarah memang begitu:
setengah fakta
setengah fiksi.
Maka perlu ada koreksi,
perlu ada reinterpretasi.

Gitar


Gitar itu membuka mulutnya
ke dalamnya seorang anak
memasukkan kepalanya
tepat pukul dua belas siang hari,
pada hari Minggu.

lalu dari pantatnya
terdengar bunyi aneh,
dan disusul bau busuk.
Orang-orang mencoba menebak
masukkan apa yang tersedia
dalam lubang mulut gitar itu?
Ataukah hari dimasukkannya
kepala berpengaruh besar?

Bunyi aneh terus terdengar sepanjang hari
dan bau busuk bervariasi
memenuhi ruangan itu
Dunia dalam gitar
tetap sebagai teka-teki.

[1984]

Ledek Munyuk


Terlintas, kita adalah ledek munyuk itu
menari diiringi tabuhan
Membawa payung dan jumpalitas
Menarik gerobak tanpa tujuan.
Jika si munyuk bosan dan tak hiraukan

irama gendang
Lari mencolek tangan perawan tengah nonton
cemeti memukul punggung sebagai hukuman
Seiring irama gendang kehidupan
Kita pun menari
Hingga batas waktu
Tatkala tirai panggung turun
Dan pertunjukan usai
Lenyaplah kita tanpa catatan.

[MINGGU PAGI, Juni 1995]

Kota


Kota tertidur
di dalam hatiku
Hatiku tertidur
di dalam kotaku

Angin bersembunyi di rumahnya
Dan sepi menjelajahi seluruh kota.
Tak ada bunyi, tak ada suara
Pengertian muncul bukan karena makna kata.

Kota tertidur
di dalam hatiku
Setelah lelah berteriak
menyatakan adanya.

Dan engkau?
Engkau menggeliat di sisiku
Karena inilah saatnya
Kita berdekapan kembali;
Dengan diam-diam
tanpa bahasa kata

Kota yang tertidur
tempat kita diam-diam
membangunkan kembali gairah saling percaya
yang lesu, karena hingar-bingar kota:
di mana penghianatan
terbuka kemungkinannya.

Kota tertidur di dalam hatiku
Menggeliatlah engkau!
Mendesahlah engkau!
Ini saatnya!

[1982]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......