Langsung ke konten utama

Jam-Jam Gelisah

Orang lebih banyak mengenal Todung Mulya Lubis sebagai pengacara yang sukses ketimbang penyair. Padahal puisi-puisinya telah muncul di media massa pada dekade 70-an, jauh sebelum publik mengenalnya sebagai praktisi hukum. Antologi puisi pertamanya, Pada Suatu Lorong, terbit pada tahun 1968. Ia pun kerap muncul dalam pembacaan puisi dan forum sastra pada masa itu. Aktivitasnya sempat berhenti ketika ia masuk dalam daftar cegah-tangkal (cekal) di era Orde Baru. Kini Todung MUlya Lubis kembali membukukan puisi-puisinya dengan juduk Jam-Jam Gelisah. Refleksi Penulis terhadap kesendirian, politik, kritik sosial, dan perjuangan hidup, tertera pada 52 puisi dalam buku ini.

Jam-Jam Gelisah
Todung Mulya Lubis

Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I, Desember 2006
60 Halaman
ISBN 979-22-1347-3

Jam-Jam Gelisah


langit yang murung
bagai ibu tua mau menangis
sementara kokok ayam melangit
kenapa lupa dan penuh senyap
- jam sembilan pagi
lalu bisu melintas dalam
harap yang hampa
satu-satu bintang jatuh
semakin murung langit
-jam sebelas siang
matahari belum datang
kenapa lupa?

1968

Ranjang


Sebuah dermaga
di mana rindu
dilabuhkan

Sesudah itu
perahu berlayar
beberapa bulan

1971

Oslo


angin kencang memukul-mukul jas
dan dasiku. aku kedinginan.
langkahku cepat bergegas menuju
tempat pertemuan. aku berpacu dengan
bis dan kereta api kota, taksi, sepeda, dan
pejalan kaki. tidak ada tabrakan. tidak ada
klakso. tidak ada hiruk pikuk
kenapa semua bisa berdamai?
kenapa bis, taksi, dan sepeda bisa
berdampingan dan bersahabat
di jalan yang sama?

dari Storgatan ke Karl Johans Gate
aku termangu-mangu memandang rumah
dan toko. cat yang mengelopak seperti
menjelaskan usia dan derita
betapa angin dan hujan mendera mereka
sepanjang jaman. Betapa dingin, ah
aku pun ingin segera sampai ke tujuan
aku ingin segera sampai ke tujuan
aku ingin segera bertamu ke kamar
yang bertuliskan "Gentleman"

1995

Engkaukah yang Membisikiku?


Sedetik barangkali Engkau mencuri tidurku
sekitar jam empat siang kala kumenyerah
pada lelah. Perjalanan pikiran yang mencari
pegangan dan kebearan terus tak pernah padam.
Aku bingung dengan semua kejadian
yang menakjubkan yang aku tak bisa bayangkan.
Aku bingung dengan langkah waktu yang melompati jaman.
Orang tak lagi bernama. Orang tak lagi membaca kitab.
Orang tak lagi memelihara kiblat.
Orang kembali memuja berhala dan dirinya.
Tapi ajaran agama diumbar di mana-mana, dan
orang berlomba ke gereja dan mushola.
Tapi berhala ada di hati mereka.
Tanah-tanah rakyat tak diakui meski nenek moyangnya
yang merambah hutan dan rawa jaman dulu kala.
Laut Jawa juga semakin sempit bagi orang-orang Madura
karena ada kapal-kapal besar bersenjata.
Kaki lima juga diseret ke sana keamari
oleh Kamtib berseragam putih.
Manusia semakin tak bertanah dan berumah.
Ada apa dan kenapa orang jadi lupa.
Angin siang yang kering lewat begitu saja.
Jawaban tak terdengar sampai aku malas bertanya.
Itu
tak
tak
tak
tak mulia,
bisik suara seketika
Aku mencari suara itu, aku rindu suara itu.
Engkaukah itu?

1997

Senggama


rindumu rinduku bersekutu mengejar waktu
birahimu birahiku menggapai menyatu
nafasmu nafasku jatuh satu-satu
berserakan dalam kelambu

tertahan kata di tenggorokan
bersapaan kita lewat mata
bersebelahan berdekapan
bertaut dalam gelap malam

2003

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Puisi-Puisi Emong Soewandi

MOSAIK SEBUAH JEMBATAN KEDUKAAN kedukaan kini mesti diseberangi dengan berat yang mungkin tak terimbangkan antara aku dan keinginan, serta hati yang telah tertatih membimbing imajinasi ke puisi romantik tentang laut dan pelangi. maka jadilah bentuk dan garis bersinggungan tak-beraturan tanpa pangkal tanpa akhir tanpa isi tanpa tubuh adalah kegelisahan sebagai sandi-sandi rahasia yang memerlukan kunci pembuka diikat dengan rantai-rantai matahari ambang fajar. namun selalu saja lupa dimana ditaruh sebelumnya atau, mungkin telah lolos dari kantung untuk ingkari kesetiaan janji tentang bertanam benih di lahan yang baik ah, tentu butuh waktu untuk menemukannya sementara galau telah sampai di puncak tanpa purna-kepastian bengkulu, oktober 2005 LALU KEMARAU DI BULAN KEEMPAT belum ‘kan ada bunga kopi mekar, yang tegak di atas cadas. di antara daunan yang terkulai ditampar kering bumi. yang memang sulit tepati janji berikan mata air. maka jadilah pagi hari kita cukupkan saja dengan selemba...

Khusus Wawancara dengan Penyair

SANG wartawan itu akhirnya bisa juga mencuri kesempatan, bertemu dengan Penyair Pujaan. Sejumlah pertanyaan sudah lama dia persiapkan. Sudah lama mendesak, "kapan kami diajukan?" Tapi, maklum penyair sibuk, ada saja halangan. Wawancara pun berkali-kali harus dibatalkan. *** + Anda sibuk sekali, Penyair? Ya, saya harus melayani kemalasan, masih direcoki oleh khayalan, dan sesekali harus bersembunyi jauh keluar dari diri sendiri. Belum lagi omong kosong yang sering datang bertamu, tak tentu waktu. Jangan kira jadi penyair itu enak. Jangan kira penyair itu seorang penguasa kata-kata. Kau tahu? Penyair yang baik itu adalah pelayan kerisauan bahasa. Dia harus memperlapang, apabila ruang pemaknaan menyempit. Dia harus mengajak dolanan, jika bahasa dirudung kemurungan. Tapi, dia harus mengingatkan, pabila bahasa mulai gurau kelewatan. + Ngomong-ngomong, puisi Anda pada kemana nih? Kok sepi? Ya, belakangan ini saya memang tidak banyak melahirkan puisi. Saya hanya menyiapkan banyak se...