Langsung ke konten utama

Jarak Bernama Spasi


 
  Kemudian…
  Degup jantung yang bermuara pada ceruk kecil
  Bernama samudera diantara tatapanmu
  Menahanku pada galau pekat yang mengabut
  Menyambangiku dalam gurat jarak bernama spasi
  Menghadirkan jeda ketika kau berada begitu rapat
 
  Entah pada langkah keberapa harus kuhentikan
  Mengejawantahkanmu meski hanya sebatas mimpi
  Dan seperti biasa
  Aku hanya mampu tergugu
  Membuncahkan rasa entah pada siapa
  Dan seperti biasa
  Aku hanya mampu merindu
  Kembali duduk di keningmu
 
  Hingga sajakku
  Menjadi bisu
  Menjadi batu
   
  Jakarta, 12 november 2006
  01:15 wib

       Dani Ardiansyah

Komentar

  1. # Jarak

    diantara kita memang sudah ada jeda

    jarak yang tak bernama

    bukan cuma koma

    tapi spasi yang panjang

    menciptakan ruang hening tanpa warna

    rindu yang membisu

    kamu menjauh

    terus menjauh

    ;( dan selalu ada tanya yang sama, akankah kita dapat kembali searah?)

    -rid-01sept06

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Puisi-Puisi Emong Soewandi

MOSAIK SEBUAH JEMBATAN KEDUKAAN kedukaan kini mesti diseberangi dengan berat yang mungkin tak terimbangkan antara aku dan keinginan, serta hati yang telah tertatih membimbing imajinasi ke puisi romantik tentang laut dan pelangi. maka jadilah bentuk dan garis bersinggungan tak-beraturan tanpa pangkal tanpa akhir tanpa isi tanpa tubuh adalah kegelisahan sebagai sandi-sandi rahasia yang memerlukan kunci pembuka diikat dengan rantai-rantai matahari ambang fajar. namun selalu saja lupa dimana ditaruh sebelumnya atau, mungkin telah lolos dari kantung untuk ingkari kesetiaan janji tentang bertanam benih di lahan yang baik ah, tentu butuh waktu untuk menemukannya sementara galau telah sampai di puncak tanpa purna-kepastian bengkulu, oktober 2005 LALU KEMARAU DI BULAN KEEMPAT belum ‘kan ada bunga kopi mekar, yang tegak di atas cadas. di antara daunan yang terkulai ditampar kering bumi. yang memang sulit tepati janji berikan mata air. maka jadilah pagi hari kita cukupkan saja dengan selemba...

Ayip Rosidi

Pengarang, editor, Ketua Dewan Pendiri Yayasan Kebudayaan Rancagé, Ketua Pendiri Yayasan Pusat Studi Sunda. Pernah bekerja sebagai pengajar bahasa dan kebudayaan Indonesia di Osaka Gaikokugo Daigaku (1981-2003), di samping mengajar juga di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daigaku (1982-1995), Jepang. Memprakarsai pelembagaan Hadiah Sastra Rancagé sejak 1989, dan memprakarsai penyelenggaraan Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) 2001 di Bandung. Menulis sejak remaja, baik dalam bahasa Indonesia maupun Sunda. Buku-buku karyanya, lebih dari seratus judul, antara lain berupa roman, koleksi puisi, koleksi cerita pendek, memoar, dan biografi.