Langsung ke konten utama

Aku Tak Ingin Sepi

 

jika pada sebuah hari yang kita sangka sebagai akhir, adakah yang dapat membuatmu berdiri meninggalkanku dengan kata?disebuah pantai yang telah kuceritakan padamu dengan pasir2nya yang mengubur kita dengan karang dan air asin.

(karena aku tak ingin sepi.)

ketika hilang yang berteriak dan sebuah ilalang yang beterbangan pada senja, adakah dirimu yang mengajariku melompat tali dan berhitung tentang angka2 yang genap seraya merebah disangkar burung yang kita namakan ibu?dan telah tertera pada sebuah pohon renta tentang hidup yang enak yang enak dicerna, yaitu namamu.

(karena aku tak ingin sepi.)

aku tahu tentang surga. dimana engkau yang bersandar dipundakku. bercerita tentang rumput dan canda binatang malam.

aku tahu tentang surga. yang menyimpan lama pada senyummu. sehingga kita ingat tentang aku yang menjemputmu dan sejauh mungkin mengajakmu berjalan pada hari yang selalu ingin kusebut "indah". hingga gusar yang berdiam pada sebuah akhir yang ingin kuberi titik dan beranjak pada awal yang menyudahi matiku.

(karena aku tak ingin sepi)

(sayangku, aku tak ingin sepi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Puisi-Puisi Emong Soewandi

MOSAIK SEBUAH JEMBATAN KEDUKAAN kedukaan kini mesti diseberangi dengan berat yang mungkin tak terimbangkan antara aku dan keinginan, serta hati yang telah tertatih membimbing imajinasi ke puisi romantik tentang laut dan pelangi. maka jadilah bentuk dan garis bersinggungan tak-beraturan tanpa pangkal tanpa akhir tanpa isi tanpa tubuh adalah kegelisahan sebagai sandi-sandi rahasia yang memerlukan kunci pembuka diikat dengan rantai-rantai matahari ambang fajar. namun selalu saja lupa dimana ditaruh sebelumnya atau, mungkin telah lolos dari kantung untuk ingkari kesetiaan janji tentang bertanam benih di lahan yang baik ah, tentu butuh waktu untuk menemukannya sementara galau telah sampai di puncak tanpa purna-kepastian bengkulu, oktober 2005 LALU KEMARAU DI BULAN KEEMPAT belum ‘kan ada bunga kopi mekar, yang tegak di atas cadas. di antara daunan yang terkulai ditampar kering bumi. yang memang sulit tepati janji berikan mata air. maka jadilah pagi hari kita cukupkan saja dengan selemba...

Ayip Rosidi

Pengarang, editor, Ketua Dewan Pendiri Yayasan Kebudayaan Rancagé, Ketua Pendiri Yayasan Pusat Studi Sunda. Pernah bekerja sebagai pengajar bahasa dan kebudayaan Indonesia di Osaka Gaikokugo Daigaku (1981-2003), di samping mengajar juga di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daigaku (1982-1995), Jepang. Memprakarsai pelembagaan Hadiah Sastra Rancagé sejak 1989, dan memprakarsai penyelenggaraan Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) 2001 di Bandung. Menulis sejak remaja, baik dalam bahasa Indonesia maupun Sunda. Buku-buku karyanya, lebih dari seratus judul, antara lain berupa roman, koleksi puisi, koleksi cerita pendek, memoar, dan biografi.