Langsung ke konten utama

Biografi Dari Beranda Sine



-sine, jangan menangis lagi

di luar, gerimis begitu giris
beranda itu ingin kembali menjadi saksi setiap
pertemuan rindu dan percakapan mesra seperti dulu.
"denyut jantung mereka, denyut jantung matahari,"
sofa dan asbak kayu mengenang.
"seseorang menangis, yang lain memeluknya.
dan mereka tak bersedih," masa lalu membayang di pintu.
"ribuan merpati berterbangan dari tangan mereka
dengan pita-pita putih melingkar di lehernya,"
vas bunga pun terkenang.

dan gerimis yang lebih keras dari semalam,
tak sanggup menyembunyikan tahun-tahun kecemasan.
beranda itu mengeja gemericiknya
menjadi sebuah biografi kesedihan yang panjang.
kenangan penuh debu. beranda itu,
sepi merah hati rindunya. hingga suatu pagi,
sesobek koran yang dibawa angin ke beranda itu
memuat berita perkosaan, pembunuhan, lpeledakan bom

dan demonstran yang ditembak aparat keamanan.
meja bambu teringat kecemasan
yang mengalir dari kelopak mata qabil
saat menatap liang lahat yang digali burung gagak
sehabis pembunuhan pertama , berucap vas bunga,
"mereka tinggalkan beranda, untuk saling
membakar dadanya.
membuat novel dari senjata dan penjara."

di luar, gerimis masih giris, beraqnda itu ingin
menyaksikan mereka pulang dan bercakap lagi bersama.
menyeka debu di sekujur kenangan, tembok
meja bambu, sofa, vas bunga dan asbak kayu.
sungguh, beranda itu ingin ...

di luar, di antara giris,
tiba-tiba gerimis seperti menemukan sesuatu
dan berteriak,
"ahimsa, ... ahimsa! dimana lelaki itu?"

Bangkalan, 2000-20001

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......