Langsung ke konten utama

Yockie Soeryoprayogo Di I Like Monday* Ke Musikalisasi Puisi

Di rumah kediaman Eros Djarot di bilangan Deplu Bintaro, seminggu terakhir ini terdengar bising dengan deru instrumen musik yang beradu dengan timbre vokal berbeda-beda, menyanyikan lagu yang sempat berada diundakan teratas pada bebera dekade silam.Seolah dejavu mendengar lengkingan soprano seorang wanita menyanyikan  :"musim berlalu  masa berganti, matahari pagi bersinar gelisah kini....." Ah itu kan Berlian Hutauruk dari album fenomenal "Badai Pasti Berlalu".


Tak lama berselang terdengar vokal pria meradang, tampaknya mencuatkan imaji rock ....."hei hei tunggu dulu.....susu anakku !" Hmm rupanya ini tribute to God Bless melalui kerongkongan Nugie.

Lalu ada duet.........."engkau lilin lilin kecil masihkah kau menyengat sejuta cahaya".....inilah lagu yang tak bisa didelete dari sejarah musikal Chrisye.......menjadi apik dan kontras di tangan Marcell dan Tere.

          Arkian, Yockie Soerjoprajogo adalah arsiteknya......music director, composer sekaligus player yang menyelusup dalam berbagai genre musik di negeri ini.....dari rock, pop, jazz(y), folk-rock dan entah apa lagi.Yockie berada dibalik kemegahan grup rock masa silam God Bless, dibalik album Badai Pasti Berlalu, dibalik fenomena Chrisye yang tak lekang dimakan zaman,dibalik nama Dian Pramana Poetra, Titi DJ, Vonny Sumlang, Mel Shandy, Nicky Astria, Ikang Fawzy, Iwan Fals, Ita Purnamasari, Andi Meriem Mattalatta dan sederet panjang lainnya.Termasuk masuk dalam pergaulan budayanya dengan Kantata Takwa, Swami, Suket.

Jikalau ingin melihat catatan perjalanan musiknya yang panjang,rasanya kita mesti menyaksikan salah satu penggalannya pada hari Senin 17 September dalam "I Like Monday" di Hard Rock Cafe.

          Jockie yang dikerubuti pemusik belia seperti Rama Yaya (dram), Rudy (Bass), Tharas (gitar)  dan tentu saja Yockie  pada baby piano dan kibord, bakal membarengi penyanyi era kiwari Ressa Herlambang, Tere, Marcell, Nugie dan "diva" dalam arti sesungguhnya Berlian Hutauruk.

          Kehadiran Yockie di I Like Monday ini bukanlah sekadar untuk meramaikan saja, tapi karena akan ada jejak langkah besar berikutnya yang akan di jalani seorang Yockie. " Ini adalah pemanasan saya untuk terjun lagi di dunia musik. Berikutnya saya telah menusun rancangan konsep kerja."Tutur Yockie, di rumahnya dibilangan BSD.

          Salah satu konsep rancangan Yockie, adalah akan membuat sebuah album musikalisasi puisi bersama seorang penyair, dan seorang pelantun musikalisasi puisi yang namanya belum siap untuk diumumkan.

          Puisi yang digarap menjadi lagu itu, merupakan puisi dengan thema yang beragap, "Sekarang baru selesai 50%. Kesulitan utama adalah bagaimana ia tampil tidak pop, tapi bisa komersil. Karena selama ini ada kesan kalau musikalisasi puisi itu, pasti tidak komersil. Dan lagi, saya harus menyeimbangai antara kekuatan lirik dan musik. Musik tak boleh menonjol dari puisis, begitu pula pelantunnya, harus bisa menjiwai puisi secara total. Ini tantangan," ujarnya merendah. Padahal kita tau, bahwa dalam perjalanan karirnya, ia telah pernah menterjemahlan puisi si burung merak (WS Rendra), seorang budayawan, saat menggarap Kantata Taqwa.

          Akankah Yockie bakal mengulang sukses sebagai composer besar Indonesia, baik lewat jalur pop, rock dan kolaborasi dan juga akan sukses pula dengan musikalisasi puisinya ini.

          Semoga.
 
* 
- Hard Rock Cafe Jakarta
- 11 September (911 day)
- 20.00 - 22.00 WIB

 


Setlist 11 September 2006 :
 
Pelangi, Matahari, Lilin Lilin Kecil, Juwita, Sabda Alam, Anak Jalanan, Gita Cinta SMA, Resesi, Selamat Jalan Kekasih, Kau Seputih Melati, Ratu Sejagad, Kehidupan, Percayalah Kasih dan beberapa hits lainnya.
 
Salam
Denny Sakri
0818417357

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...