Langsung ke konten utama

Nikmatnya Bencana

 

Ketika bencana datang, dan semua yang kita cintai menghilang,setelah air mata tak lagi berlinang,pergilah kelubuk hati yang tenang.

 

Ada kebeningan nurani disana,yang  mengajakmu mengembara kealam pasrah ,lalu berserah

Dan biarkan lah keluhuran budi yang masih tersisa didalam  kalbu itu memaknai segala peristiwa, lalu terus  bersemi didalam kebersihan nurani.
 
Kekosongan yang hampa bukan alasan untuk menebarkan kesepian jiwa, dialah yang mendatangkan keweningan pikiran, untuk berkelana menapaki jalan jalan lurus menuju cahaya......bintang-bintang yang terang
 
Keteguhan jiwa  menguatkan ayunan langkah langkah tekad semakin bulat, mewujudkan lagi impian impian ,menjadikannya kenyataan.
 
Kehilangan yang mengguncang akan dijadikan sarana penemuan hadirnya kebersamaan baru didalam lembah rasa keprihatinan.
 
Keterpisahan akibat direnggut bencana ,akan melahirkan kesadaran serba sementarnya semua keberadaan didalam kehidupan dunia.

 

Betapa nikmatnya rakhmat Sang Penguasa Jagat Alam Semesta, yang dilimpahkanNYA  dalam berbagai macam cara.

Termasuk dalam sesuatu yang kita sebut  bencana.

 

PutNus 20-08-2006

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...