Langsung ke konten utama

Rintihan Lasemi ( III )



Lasemi…

di penghujung usiamu

merintihlah pilu dan keras

karena sejarah telah dibangun

diatas kejahatan yang dimuliakan

 

“Apa yang terjadi di tahun itu?

kenapa kekejaman itu harus terjadi?”

kau pertanyakan walau sulit mencarinya

tak sedikitpun kau temui jawabnya

namun kau tak pernah jenuh 

 

Biar dan biarlah…

jangan kau usik kejenuhanmu

cawan empedu itu telah tumpah

mengejangkan segala luka turunan

ya, kejenuhan hanyalah pendera luka

 

Di tahun itu…

awal dari segala kebejatan

penyuguhan yang sempurna

merajam tajam tiap kehidupan

kemunafikan adalah bahasa sejati

 

Kini Lasemi…

menanti terbenamnya waktu

dengan jiwa meradang penasaran!

 

 
Juli 2006, Leonowens SP


Komentar

  1. Lasemi adalah gambaran.....Tentang ketidak berdayaan......Tentang sebuah keterpaksaan...Tentang tiada pilihan.dan kebodohan, ....juga Tentang sebuah Penyesatan...... Dan itu semua adalah sebuah 'karya cemerlang' dari Kedigjayaan angkara murka , keserakahan,kesewenangan, kemunafikan .

    Banyak sekali 'Lasemi , Lasemi' lain diberbagai bidang kehidupan yang karena ketidak berdayaannya terpaksa menjadi bagian dari barisan Angkara murka kejahatan. BAGAI SEORANG PELACUR YANG TERPAKSA MENJADI BAGIAN DARI KEMAKSIATAN. Bravo Bung....!!!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Puisi-Puisi Emong Soewandi

MOSAIK SEBUAH JEMBATAN KEDUKAAN kedukaan kini mesti diseberangi dengan berat yang mungkin tak terimbangkan antara aku dan keinginan, serta hati yang telah tertatih membimbing imajinasi ke puisi romantik tentang laut dan pelangi. maka jadilah bentuk dan garis bersinggungan tak-beraturan tanpa pangkal tanpa akhir tanpa isi tanpa tubuh adalah kegelisahan sebagai sandi-sandi rahasia yang memerlukan kunci pembuka diikat dengan rantai-rantai matahari ambang fajar. namun selalu saja lupa dimana ditaruh sebelumnya atau, mungkin telah lolos dari kantung untuk ingkari kesetiaan janji tentang bertanam benih di lahan yang baik ah, tentu butuh waktu untuk menemukannya sementara galau telah sampai di puncak tanpa purna-kepastian bengkulu, oktober 2005 LALU KEMARAU DI BULAN KEEMPAT belum ‘kan ada bunga kopi mekar, yang tegak di atas cadas. di antara daunan yang terkulai ditampar kering bumi. yang memang sulit tepati janji berikan mata air. maka jadilah pagi hari kita cukupkan saja dengan selemba...

Ayip Rosidi

Pengarang, editor, Ketua Dewan Pendiri Yayasan Kebudayaan Rancagé, Ketua Pendiri Yayasan Pusat Studi Sunda. Pernah bekerja sebagai pengajar bahasa dan kebudayaan Indonesia di Osaka Gaikokugo Daigaku (1981-2003), di samping mengajar juga di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daigaku (1982-1995), Jepang. Memprakarsai pelembagaan Hadiah Sastra Rancagé sejak 1989, dan memprakarsai penyelenggaraan Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) 2001 di Bandung. Menulis sejak remaja, baik dalam bahasa Indonesia maupun Sunda. Buku-buku karyanya, lebih dari seratus judul, antara lain berupa roman, koleksi puisi, koleksi cerita pendek, memoar, dan biografi.