Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...
Dan........... bila begini cara berjalan .....leher kaku, kepala tegak kedepan..... tanpa salam , tak ada sapaan..... mana ada keakraban....... atau....... memang begini cara hidupnya penyair ..........acuh dan saling mencibir..? ........Bravo....puisi anda bagus sobat.
BalasHapusada benarnya namun rasanya banyak tidaknya. berpuisi itu adalah berkontemplasi dengan atribut masing-masing, berpuisi juga adalah memetik intisari dari perenungan yang panjang. kotemplasi dalam hidup selalu diperlukan walau tidak selalu dalam bentuk puisi. hidup itu memang nyata namun juga bukan hanya tuk dipikirkan, hidup perlu dijalani dengan perbuatan-perbuatan yang juga harus selalu dipikirkan dan dipertimbangkah langkah2nya dengan perenungan tadi. berdoa dan berusaha, berdoa lagi dan berusaha lagi, doa lagi dan usaha lagi......dst
BalasHapussebenarnya tidak separah itu gambaranya :(
BalasHapusmengapa anda bisa menafsirkannya seperti itu saudara Putra?
begitu kan sifat masing2 individu, bukan penyair secara universal.
banyak juga kok penyair yang ramah, dam peduli pada sesama :)
benar seperti yang dikatakan singularitashati..ah susah amat sih namanya hehehe
bahwa dalam hidup ini kita harus melakukan banyak perenungan ..jangan sampai kita terlepas dari ayat2 puisi yang nyata yang datang pada kita yaitu detik dan waktu yang tengan bergulir pada kita saat ini itulah hakekat puisi itu sendiri...(saya berusaha jujur pada puisi)
salam ceria...
sha, aku tak tenggelam dalam hurufhuruf kau hanya menghanyutkan hurufhuruf ke lautan kata.
BalasHapussedangkan hidupku lautan kata yang sedang menepi menjemput permaisuri