Langsung ke konten utama

Secangkir Kopi Sepagi Ini


Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju
Yang kau kenakan
Aromanya masih bersatu dengan
Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol
Lalu kita buang bersama baju-baju itu
Dan bersiul girang
Segera kau kenakan pakaian seadanya
Pergi menjemput pagi
Aku hanya menatap kau mendekati pintu
Dan menyesali pintu itu kau tutup
Kau hanya tersenyum genit dan berkedip
Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi
Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup
Seandainya kau membuat kopi sepagi ini
Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum
Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan
Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan
Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa
Membawa megaphone, atau berteriak lantang
Sesiang panas ini
Orde-orde itu tak beranjak tumbang
Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku
Supaya tidak pesimistis
Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan
Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat
Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir
Aku larut kembali namun butuh secangkir kopi sepagi ini
Lalu kita yakin dan menyusun kembali gerakan-gerakan
Sambil menikmati camilan, kudapan dan makanan ringan


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......