Langsung ke konten utama

Pastorale Paradiso



 
Awal Juni meraut langit,
layaknya kota kabut memutih,
Dikelilingi hutan pinggir, mengitari tanah berlaut.
 
Hujan rintik yang mengantri,
Ngengat-ngengat Tuhan dari Firdaus,
                        Memadui Bumi,
membangun peraduan,                                 
Di sayap-sayap Burung,
                                                            Di dedaun menaung.
 
Paruh-paruh mereka melengkingkan
            Alunan Saksofon
                        Disebarkan Angin
                                    Bergiliran.
 
Awal Juni yang sendu
            Mencipta lagu
                        Kota-kota kabut
                                    Di bawah Langit yang meraut.
 
Sisa hujan di tanah basah
            Menyisakan genangan di matamu
                        Dengan warna perak anak ikan
                                    Yang mencucuki tebing batu berlumut.
 
Di bibir padang jagung
            Rindu menitip jalan setapak
                        Mencari raut, menerangi pandang membusung
                                    Hampir meledakkan gelembung katak.
 
Matahari tertidur di ujung jalan, dijagai lembing, dihibur jangkrik.
Langkahku menjauh, menghampirimu dipeluk Matahari.
 
Sisa hujan, gigil rumput, hanyut daun di tubuh arus
            Harum keringat asam sulfat, lendir hidung udara
                        Sama demamnya dengan tanah basah.
 
Sesuatu mirip desa,
            Mengintai kedatanganku, tak ada siapa-siapa
                        Seekor serigala
                                    Mungkin saja sedang menunggu mangsa
                                                Yang tersesat.
 
Sepasukan belalang tiba-tiba datang,
Menghampiri,
Hari telah sore,
                                    Aku adalah lampaumu, Tuan!
 
2006




*
Sulaiman Djaya lahir di Serang, Banten 1 Januari 1978. Selain menulis puisi, saat ini ia aktif sebagai periset di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta dan Jaringan Intelektual Mahasiswa dan Masyarakat Serang (JIMMS) di Serang, Banten. Antologi Puisi pertamanya adalah Mazmur Musim Sunyi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...