Langsung ke konten utama

Mentari DAN Pelangi

Seorang laki laki berniat menyempurnakan mimpi dan mempersiapkan diri demi sebuah esok hari.. hari pada saat nanti dimana bunga bunga harga diri menjadi hiasan peti mati. Seorang laki-laki yang sedang mengemasi perbekalan perjalanan sukma lengkap dengan cungkup saji berupa tujuh cakra meditasi serta sekeranjang nyali. Namanya adalah Mentari.. seorang laki-laki yang sedang berpamitan kepada sang istri sekaligus memohon juga melaksanakan ritual suci menyalakan api abadi pertanda masih adanya ikatan hati. Mengangguklah sang istri..dia adalah Pelangi. Mentari: Tak ada alasan menghindar dari busuk penghuni jaman karena dunia adalah pasar..memang adalah tempat jual beli kehormatan, ada harga yang ditawarkan meski tak terjangkau oleh sebagian orang. Pelangi: Akan tetapi sekarang engkau membutuhkan ruang dengan bau kemenyan demi keseimbangan..aku paham dan akan selalu paham. Mentari: Engkau lebih mengerti bila saatnya sudah datang… siapakah Dewa yang telah mendatangimu untuk memberikan kabar ini? Pelangi: Seribu Dewa yang menyampaikan..seribu lainnya mengiyakan.. dan seribu lainnya meragukan senyumku sebagai tanda kesediaan serta keihlasan. Dengarkan ucapan ini suamiku, ucapan yang kusampaikan pada tigaribu Dewa yang mendatangiku… “Aku dan suamiku adalah pasangan jiwa. Raga kami adalah sangkar cinta ang tahu apa arti dahaga dan cara membasahinya. Kami adalah saling pemanfaatan, kami adalah saling pelengkapan. Seperti jari jemari kami yang menyatu genggam membentuk satu kepalan tuk melawan apa dan siapapun yang berniat mengoyak masa depan. Suamiku sedang sekarat hati karena lelah menghirup busuknya pelaku kehidupan.. aku bisa melihat itu lebih dulu dari pada kalian para Dewa, karena kalian diatasnya sedang aku ada di dalam kalbunya”. Mentari: Ya pasangan jiwaku..terimakasih.. bukalah bibirmu karena akan kuhembuskan ruh syahwat duniaku, aku titip itu karena memang hanya engkaulah yang mampu memeliharanya. Pelangi: Ya pasangan jiwaku .. terimakasih.. ini bibirku, lalu ciumlah aku seperti pertamakali dulu kau mencium bibirku, kuingat waktu itu sudah yakin bahwa engkau akan mampu menjadi pembendung airmataku. Sekarang pergilah.. berangkatlah menuju pertapaan menemui guru sejatimu. Sudah engkau sampaikan banyak jawaban, bahkan dari yang aku tak mampu merangkai kata sebagai pertanyaan.. kini sudah saatnya engkau mengajari dirimu sendiri, kelak bimbinglah aku dan keturunanmu. Lihat wahai Suamiku… Mentari dan Pelangi sedang ditantang para Dewa......

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......