Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...
oiiiii................... seperti air di mataku. meleleh. tapi tak pasti kemana akan tumpah
BalasHapuspenuh rasa
BalasHapusaih, tak ada yang dengar luka ini, puisi, lelah sudah membacamu...kau seperti batu, hanya digemari ribuan debu....
BalasHapusPANITIA CINTA TIADA LELAH KAU TUK CANDA
BalasHapusSEHABIS PETANG UCAPKANLAH KATA
''AKU KAN SELALU MENUNGGUMU...''
...................................................sekali kutulis, setelah itu habis...wkwkw...good....
BalasHapusTak ada akhir untuk kata, tak ada tikam antar mawar dan.....tak ada ampun untuk luka. Hanya keikhlasan yang sanggup menggugatnya.
BalasHapusluka, mawar, kata.. adalah bongkahan jiwa dan rasa,
BalasHapusmembacamu;
puisi..