Langsung ke konten utama

Mengunjungi Ibu


Pada pertengahan hari yang kubanjiri dengan kebencian,
air susu ibu yang kujadikan tombak dan parang seketika
menolak untuk kupakai menyerang. Padahal tubuhku
sendiri sudah basah kuyup oleh darah segar, dan keringatku
memancar layaknya mata air yang tak beranjak kering.

Lalu aku berangkat menemuimu untuk bertanya tentang
semua kemelut ini, semua kepahitan yang tak kumengerti:

Kenapa justru aku yang menjadi tawanan dalam peperangan ini?

Bukankah setiap gerakku adalah pantulan dari setiap peristiwa masa lalu.
Yang pernah kupetik di ladang ladang buku dan museum museum?
Apa hanya sekedar karena aku terlahir di musim ini, sehingga pun engkau kurasa begitu jauh dan tampak sedemikian dekat dengan mereka?

Ibu, tolonglah aku yang mestinya tak mengeluhkan hal ini kepadamu, sebab setiap pertanyaan itu sebenarnya sudah lama telah kujawab sendiri, yang kemudian justru membuatku terpelanting, dalam kekosongan ini. Dan apalagi aku pun sudah pasti tahu bahwa engkau tak 'kan pernah menjawabnya, tidak akan pernah, meski sekedar seuntai kalimat saja.

Tapi pikirkan jika sedikit saja engkau mengalah, ibu. Kalaupun bukan dukungan, setidaknya aku butuh keyakinan! Dan jika tak lagi kuhisap air susumu, itu karena memang aku sudah terlalu mabuk.

Sekarang, biarkanlah putramu ini menyandarkan kepala barang sejenak. Lalu engkau belailah rambutku, sekali saja. Dan bersama itu ceritakanlah kembali dongeng yang pernah engkau kisahkan pada setiap kali aku hendak tidur di setiap malamnya, di masa kecilku dulu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......