Langsung ke konten utama

Postingan

Slam Poetry di Depan Stasiun Tugu Yogyakarta

Sebuah pertunjukan untuk segala usia di malam Minggu. Depan stasiun Tugu Yogyakarta pada hari Sabtu 25 agustus 2007 jam 19.30 WIB. Acara ini melibatkan Abbas CH feat.Purwanto (storytelling Jawa), Erythrina feat. L.Enrico (prose reading and live PA), Jamaludin Latif (Monolog), Alex Suhendra (Poetry Reading), Jahanam (Hip Hop), Kontra (Hip Hop), Zawawi Imron (Poetry) Irman Syah (Slam Poetry), I Gede Samar Gantang (Poetry), Pardiman Djojonegoro (Poetry Acapella), Tony Maryana feat Ika Sri Wahyuningsih (Slam Poetry).

Membaca Kemerdekaan " Baca Puisi 9 Sutradara Teater

9 sutradara akan mengadakan tur pembacaan puisi di beberapa daerah di Jawa Timur. Adapun sutradara teater yang ikut membacakan puisi adalah : Luhur Kayungga, Kurniasih Zaitun, Dody Yan Masfa, Dedy Obeng, Bilantiwi, Syarif Tebo, Taufiq Sofyan, Anwar Sobari, Nur Roin. Berikut Rangkaian acara di beberapa kota tersebut. 27 Agustus 2007 pukul 19.00 wib STIKOSA AWS Surabaya 28 Agustus 2007 pukul 19.00 wib Teater Cager Gresik 29 Agustus 2007 pukul 19.oo wib Rumah Budaya Ratna Indraswari Ibrahim Malang 30 Agustus 2007 pukul 19.00 wib Tuban 31 Agustus 2007 pukul 19.00 wib Blitar Informasi: Luhur Kayungga-Komunitas Suku Bengi Jl.Gubernur Suryo 15 Surabaya0888 49 099 85

Revitalisasi Sastra Jawa Timur : Menolak Pemetaan Sastra Utan Kayu

Tanggal 20 Agustus 2007 Dewan Kesenian Jawa Timur mengadakan acara Temu Sanggar Sastra Se-Jawa Timur dengan tema Revitalisasi Sastra Jawa Timur: Menolak Pemetaan Sastra Utan Kayu dengan pembicara Dr. Putera Manuaba, Herry Lamongan, W Haryanto, Helmy Prasetya. Acara bedah buku Hujan Sebait Lipat Dalam Surat: Antologi Penyair Mutakhir Jawa Timur mengambil tempat di Bekas Gedung Museum Mpu Tantular Surabaya, Jl. Taman Mayangkara Surabaya, Jam 9 s/d selesai. Acara terbuka untuk umum. Informasi lebih lanjut hubungi W. Haryanto (085649729861)

Surat kecil

Setiap mimpi berujar kepedihan menghujam rindu padamu jiwa yang memenuhi sudut-sudut kepingan lara, tersayat luka bunda menerka itu hanya fragmen tak berkulit sepi namun kau pergi entah kemana hanya sepucuk daun pala yang kau letakkan diatas meja kamar bunda itu bukan pengobat rindu kau salah nak, jika pagi esok ada, usap matamu saat sinarnya merajam setiap helai bulu matamu seraya kau berucap “pagi lesuh, tak ada gambar bahagia Pada kehangatan malam, selain pelukku, bundamu” ku dengar itu, dan ku tunggu kau kembali Darussalam, 26 Februari 2007 # Puisi ini dimuat di Harian Aceh

Di Sela Waktu

di sela waktu. jarum jam henti berdetak. dimensi tuntun khayal pada titian gelombang pasang. aku terjerembab diatas pasir berdesir perlaha., dihantar angin sunyi pantai suram. nuansa senja menyepuh mega dipaksa temaram. walau hanya tergores sebait. serupa goresan kuas cat tembok basah. masih ada kepak burung layang di mega utara. kemana dia hendak pergi? arah tentukan pertanda. dan tandatanda akan bermain bersahutan. seperti berita dari penujum yang dibawakan gemuruh handai tolan. dan adanya ia seumpama garis yang mengikuti jalan patahpatah. selalu : cabangcabang membentang pilihan namun ini waktu terhenti. hanya desir ombak yang mengalun mesra. seperti ingin mengajakku bermain sementara. ada yang datang kembali. ada yang telanjangi hati. namun ini waktu terhenti. hanya gelombang pasang yang datang kemudian. memangku buihbuih rindu bergelombang. angin memainkan harpa sendu diikat bau anyir punggung pantai. serasa tiada kehendak mainkan lengkingan hingar karena yang ada hanyalah lirih m...

Memastikan Hati (yang tertunda)

tak ada pernah kabut ragu diantara telaga maya kita airnya tenang, sejuk nan damai selalu mampu melepaskan dahagaku dan dahagamu yang menghantui mimpi tidurmu, adalah kepastian didunia realitas walau sesungguhnya hanya dengan telaga maya itu saja aku telah yakin dan tak akan pernah kecewa namun dunia realitasmu penuh timbang rasa penuh himpitan kesepian yang kau sendiri tahu bahasanya dan kini ketika kepastianmu itu harus tertunda basah matamu membanjiri sampai sepiku disini menyeret membenamkan aku kedalam lautan ketakutan lorong panjangku yang semula terang oleh kilau genggaman permatamu semakin memanjang dan sesekali aku tergugah habis nafas terkesiap oleh hilangnya suaramu sayup sayup aku berlari mengejar tak hiraukan diriku yang tertinggal aku berlari terus hingga jangan mengecil terangmu hingga masih sanggup kudengar suaramu hingga tak lagi tahu kemana wujudku bersisa Hiroshima, Tuesday.2006.08.29.16:25