Langsung ke konten utama

Postingan

Udo Z Karzi : Aku Bayangkan Got yang Kau Pajang

ketika hujan aku tak pernah membayangkan bagaimana keajaiban tercipta tapi tidak melalui got yang kau angankan betapa sajakmu membuat hantu hantu bangkit tidur persis tanah Surabaya dengan keinginan lembab Samun betapa aku inginkan melukis sajakmu sebagai bukit dan kau arung melebihi bayangan kota bodoh dengan anjing menyalak tapi aku tak ingin lahir serupa puisimu aku ingin meledakkan rumah rumah utara yang kau kira berubah hitam sejak sungai tak lagi kau alirkan di lenganmu seperti barisan tanah yang lebih sakit hati dari elang elang hujan gerimis yang kupajang melebihi bentang gaun pelacur selebihnya sungai dengan hantu hantumu yang tak perawan inilah keinginan kota kota selatan bagaimana sajakku membaca sejarah sebagai dunia tanpa ketololan sebab kau lebih layak terpotong sebagai penyair simbolis yang sudah terbantai sejak patung patung bermimpi mengelupas di kulitmu Surabaya, Juni 2007 Dody Kristianto lahir 3 april 1986. mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Peni...

Herbarium

Sebagaimana antologi bersama lainnya, ini adalah buku gado-gado dengan beragam tema yang diangkat. Membawa nama empat kota (Bandung, Padang, Denpasar, Yogyakarta) memberi harapan akan munculnya puisi-puisi yang bersifat kelokalan yang kuat atau setidaknya mampu menangkap semangat empat kota dengan karakteristik yang berbeda. Sayangnya puisi-puisi di dalamnya tidak menyentuh kekhususan tersebut, meski demikian hal yang patut di acungi jempol, buku ini di sokong oleh penyair muda yang rata-rata lahir di atas tahun 80-an dan beberapa diantaranya berhasil menembus beberapa koran ibukota dengan puisinya.

Kupilih Sepi

Maman Imanulhaq Faqieh acap dikenal sebagai Kang Maman memang lekat dengan dunia pesantren. Pendiri Pondok Pesantren Al-Mizan ini dikenal juga sebagai mubaligh. Jadi jika puisi-puisi yang dituliskan bergelut masalah kereligiusan adalah hal yang lumrah. Hal yang tidak lumrah mungkin usahanya membawa masuk seni,sastra, dan budaya ke dalam pesantrennya di Majalengka yang dalam konteks Majalengka masih sedikit dilakukan. Mengusung tema yang besar yaitu keimanan tentunya tidaklah mudah, beberapa puisinya terkesan standar, tetapi ada juga yang menyentuh hati.

Antologi Sastra RING SATU DUA

SATUBUMI mengundang para sastrawan di Indonesia untuk merespon rencana pembangunan PLTN Muria, dalam bentuk puisi dan cerpen. PLTN Muria akan lebih membuat kehidupan masyarakat Indonesia , terutama di Ring I (Jepara) dan Ring II (Demak, Kudus, Pati) semakin tidak nyaman. Hal ini lebih dikuatkan lagi dengan belum adanya ahli PLTN yang dimiliki oleh Indonesia . Gagasan pendirian PLTN di Semenanjung Muria lebih banyak dipengaruhi oleh faktor ‘gagah-gagahan’ . Secara ekonomis, pada akhirnya tidak memihak rakyat. Juga tanpa mempertimbangkan analisis kondisi lingkungan serta kemungkinan terburuk terjadinya kebocoran yang radiasinya tidak akan hilang hingga 800 tahun. Pembangunan PLTN di Semenanjung Muria juga akan berdampak sosial, di antaranya terancamnya kenyamanan masyarakat dalam bekerja, juga terancamnya kenyamanan perusahaan-perusaha an melakukan roda industrinya. Pemikiran ini akan sampai kepada kemungkinan relokasi pabrik demi kenyamanan dan keamanan para karyawannya. Singkatnya, dam...

Biar Kuterjemahkan

biarkan kuterjemahkan matamu sebab tak ada yang lebih jingga dari segala kata di situ kugubah sebaris puisi kuletakkan di pinggir jendela tua saat fajar akan kau baca bumi berangkat tidur duka berangkat hancur leleh dalam pelukanmu tergenggam tangan rindu seperti matamu puisiku juga jingga kata dan baitnya memahat rindu yang datang bergemuruh akankah kau terjemahkan juga rindu dari puisiku? priok, 22juni07

Menunggu Di Rumah

kemari kutunggu kau dengan segelas soda mengaduk rindu yang makin berbusa tak perlu lagi kau bertanya sesuatu yang indah selain berjumpa datanglah ke rumah beri salam yang rekah 2007 081931536xxx