Langsung ke konten utama

Bias

Bias, Adakah ini kenyataan,
atau semata bayang diri di tengah kolam
yang menggeliat saat
sebutir batu jatuh, pluungggg....
muncul gelombang yang
tak pernah hilang.

Bias, adakah ini kenyataan,
saat cercah sinar pantulkan berkas warna,
yang bukan milikku, namun sering
aku agungkan,
kita agungkan keindahannya...

Bias, adakah ini kenyataan?
saat gelombang dari gerak bibir, gerak hati
menyentuh ruang gendang...
dan engkau tertawa,
sementara gelombang itu terus pergi...
dan tak hendak kembali lagi.

Bias, adakah ini kenyataan
saat darah mengalir deras,
dari dan kembali ke bilik, ke serambi yang sama
namun seolah telah melewati waktu
dari ujung ke ujung....

Bias, adakah ini kenyataan...
saat aku mengenal, sesuatu yang tak kukenal,
serupa diriku...serupa jantungku
yang terus berdegup tanpa dapat kukendalikan
sementara hidup seolah kugenggam

Bias, adakah ini kenyataan
saat kupu-kupu bertanya,
dari manakah datangnya diriku,
dan kemana akan perginya aku?

Bias, adakah akan semakin membias?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Puisi-Puisi Emong Soewandi

MOSAIK SEBUAH JEMBATAN KEDUKAAN kedukaan kini mesti diseberangi dengan berat yang mungkin tak terimbangkan antara aku dan keinginan, serta hati yang telah tertatih membimbing imajinasi ke puisi romantik tentang laut dan pelangi. maka jadilah bentuk dan garis bersinggungan tak-beraturan tanpa pangkal tanpa akhir tanpa isi tanpa tubuh adalah kegelisahan sebagai sandi-sandi rahasia yang memerlukan kunci pembuka diikat dengan rantai-rantai matahari ambang fajar. namun selalu saja lupa dimana ditaruh sebelumnya atau, mungkin telah lolos dari kantung untuk ingkari kesetiaan janji tentang bertanam benih di lahan yang baik ah, tentu butuh waktu untuk menemukannya sementara galau telah sampai di puncak tanpa purna-kepastian bengkulu, oktober 2005 LALU KEMARAU DI BULAN KEEMPAT belum ‘kan ada bunga kopi mekar, yang tegak di atas cadas. di antara daunan yang terkulai ditampar kering bumi. yang memang sulit tepati janji berikan mata air. maka jadilah pagi hari kita cukupkan saja dengan selemba...

Ayip Rosidi

Pengarang, editor, Ketua Dewan Pendiri Yayasan Kebudayaan Rancagé, Ketua Pendiri Yayasan Pusat Studi Sunda. Pernah bekerja sebagai pengajar bahasa dan kebudayaan Indonesia di Osaka Gaikokugo Daigaku (1981-2003), di samping mengajar juga di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daigaku (1982-1995), Jepang. Memprakarsai pelembagaan Hadiah Sastra Rancagé sejak 1989, dan memprakarsai penyelenggaraan Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) 2001 di Bandung. Menulis sejak remaja, baik dalam bahasa Indonesia maupun Sunda. Buku-buku karyanya, lebih dari seratus judul, antara lain berupa roman, koleksi puisi, koleksi cerita pendek, memoar, dan biografi.