Langsung ke konten utama

Biasa

biasanya, setiap bangun pagi dari tidurku
aku langsung masuk kamar mandi seperti biasa
basahi rambutku dan tubuh dengan sabun yang biasa
dan seselesainya pakai handuk biasa
lalu berpakaian dengan baju dan celana yang biasa
sudah itu menyiapkan sarapan yang biasa-biasa saja
nasi putih dengan telor ceplok berikut kecap merek biasa
dan masukkan makanan yang diangkut dengan sendok dari bahan biasa
kunyah perlahan dengan irama yang biasa
sayup lalu terdengar tukang koran meneriakkan koran yang biasa-biasa
kemudian aku beranjak dari dudukku ke depan tivi biasa kutatap
tekan tombol nyalakan tivi dengan jari telunjuk kanan seperti biasa
setelah itu cari saluran tivi yang biasanya
tak lama terlihat si Alfina Damayanti yang seperti biasa selalu segar di pagi hari
dengan manis menyiarkan berita yang ditelinga sangat tidak biasa
“Hari ini Amerika mulai menyerang Afghanistan dengan rudal yang luar biasa besarnya”
tapi lucunya komentar Amerika biasa-biasa saja
katanya, serangan ini merupakan hal yang biasa
dan Afghanisthan harus terbiasa
aku yang mendengar berita luar biasa itu
tersenyum dengan sinis seperti biasa
karena Amerika telah membunuh banyak warga biasa

nb: terisnpirasi oleh berita serangan AS terhadap Afghanistan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......