Langsung ke konten utama

Lomba Puisi PERKOSAKATA 2008

Lomba cerpen 100 kata dan puisi PERKOSAKATA 2008 mengambil tema “Yang Pertama”.

Persyaratan:
- Tercatat sebagai member Kemudian.com
- Telah memiliki minimal 5 postingan cerpen/ puisi
- Cerpen/ Puisi diposting di Kemudian.com dan dikirimkan melalui email dalam bentuk body mail (bukan attachment) ke kopdar2@kemudian.com dengan subjek ‘LOMBA CERPEN’ atau ‘LOMBA PUISI’, paling lambat tanggal 10 Februari 2008, dengan format sebagai berikut:

[Nickname di Kemudian.com]
[Nama asli]
[Alamat lengkap, khususnya bagi domisili luar Jakarta]
[No. telp]
[Isi cerpen/ puisi]

- Pengumuman pemenang akan diumumkan di forum Kemudian.com dan blog Perkosakata serta ANONIM pada tanggal 20 Februari 2008
- Bagi pemenang yang berdomisili di Jakarta, hadiah dapat diambil pada acara Bincang Kemudianers Perkosakata 2008, tanggal 24 Februari 2008
- Peserta dapat mengirimkan maksimal 2 karya cerpen/ puisi

Kriteria Penilaian:
- Karya yang disertakan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba lain.
- Karya berupa karya asli member, bukan hasil saduran atau terjemahan.

Juri Cerpen 100 kata:
Sefryana Khairil
Nuke 'V1vald1'
Krisna 'Neko no Oujisama'

Juri Puisi:
TS Pinang
Dino F. Umahuk

Hadiah:


*Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat
*Lomba ini tidak berlaku untuk panitia Perkosakata 2008.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......