Langsung ke konten utama

Hidup Memang Kelewat Menuntut , Kawan!*

pada kehendak kelamin muram, ketika senja mulai
mengubah nyanyi jadi naluri kanak-kanak
kata tak lagi dapat dipercaya, lambang-lambang mengerang
bersitegang dengan pikiran
dan matamu membuka kembali ramalan musim
lembaran waktu, pergeseran payudara
perhitungan atas nasib di sebrang ingatan

kawan, dari keterpencilannya
bulan kirimkan ancam
di mimpiku; bau kecemasan paling pilu
dari keyakinan-keyakinan sumbang—adakah
kau tahu kerahasiaan malam, mata yang menebal
dalam wajah-wajah remang?
namun kemunafikanmu masih menulis sejarah
pada tubuh kian kaku; tentang rindu
dan metamorfosa perkawinan yang kelak gagal

kedukaan memang bermula dari pergantian musim:

ketika bunuh diri adalah satu-satunya pilihan—penantianku
di tanah-tanah gersang, dalam liat selubung siasat
membuatku semakin lugu
hingga mengabur beda dosa dan sorga; dentum dogma
memeram mataku jadi insomnia terakut—semestinya

kaupun pergi dari negri yang makin hilang diri
berlarian sepanjang kenangan
mengutuki zakar pengecut
dan oda yang kau kirim lewat matamu
aku maknai sebagai desir denotasi—semestinya

dalam kemunafikanmu, kawan
adakah bahasa yang lebih sederhana?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......