Langsung ke konten utama

Sajak Dua Jiwa

Seperti tiada maaf lagi untukku
Ramadhan tetap Ramadhan
Seperti tiada hati lagi untukku
Ramadhan tetap Ramadhan

tidak ada yang melarang engkau untuk terus menuliskan namamu pada kertas-kertas koran, dinding-dinding perkotaan, situs-situs kesusastraan, narasi-narasi kematian, dan bahkan batu nisan pekuburan-pekuburan. yang melerai hanya detak di sanubarimu itu. Wajarkah?

menyeret apa saja mendekat, kau ajak ia berlari dan terus saja berlari ke dunia itu; dunia yang sangat jarang dikunjungi pelancong. engkau memang merasai selesa. Menikmati setiap inci langkah keegoisan, setiap tetes keringat kesendirian.

tidak kasihankah kau, badan yang lapuk itu terus saja harus menuruti titahmu. Malam dijadikan siang, siang dijadikan malam. ah, apa bedanya raga itu dengan keledai yang terus dicambuki penjaja kaki lima. dia sangat capek sekali.

tidak kasihankah kau, hati orang-orang yang sudah terlanjur tercarut? yang setengah nafasnya hampir menyatu dengan nafasmu. dan cobalah kau perhatikan, bukankah setengah nafasmu juga begitu? sudah hampir setengahnya menyatu dengan nafas mereka. tidak kasihankah kau, hatimu yang sudah terlanjur tercarut.
___________________________

Ah, kau fikir aku seperti keledai yang kau ceritakan itu? jika bukan aku yang menjadi pedagang kaki lima, tentu mereka. dan aku keledainya. apa kau tidak pula merasa mengajak apa saja mendekat untuk dibaptis menjadi pengikut-pengikut dungu.

teruslah berbicara tentang kelapukan raga, tentang segala keletihan. Lalu mengapa kau ajak ia berkeliling menelusuri Rumah-rumah ibadat yang jauh-jauh itu. Yang terdekat sajalah. di sini setiap radius seratur meter selalu kau dapati menara menjulang. menghitungi bintang-bintang. bukankah sama saja, kita sama-sama mengejar ketinggian itu?

dan mereka itu, siapa suruh mendekat? sudah tau aku sedikit gila. berani mendekakan diri, bukan hanya siap untuk lebih didekati; Tetapi harus siap pula untuk dijauhi. Justru seharusnya aku yang mencaci. Nafasku yang tercuri itu; Malah lebih dari setengahnya. Sudahlah aku capek. Salah-salah, bisa aku yang jadi keledai.

Ada kepentingan apa lagi?
aku sudah sangat jauh menyepi
Ada kepentingan apa lagi?
aku sudah sangat jauh menepi

Sept '07

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......