Langsung ke konten utama

-seorang lelaki dan aku-

Seorang lelaki yang lama tak kujumpa
Sekali lagi bangunkan aku dari tapa
Tapa dunia
Tapa penuh hasrat akan jiwa yang bebas

Seorang lelaki yang buat hidupku ada
Dia yang buat semua jadi nyata
Buat pembuka kunci hidupku
Buka kunci milikku

Seorang lelaki yang ingin kupeluk erat
Jika tak sadar
Begitu banyak nayaka
Di depan mata

Seorang lelaki yang memberi aku cahaya
Saat aku hilang arah
Buat mereka semua gelisah
’tuk sadari betapa aku berarti

Seorang lelaki yang pernah berkata
Tak ada hal hina di dunia
Semua hidup dengan harganya
Jalani dan jangan kucilkan atau sepelekan

Seorang lelaki yang lagi-lagi buatku menahan tangis
Kau hanya ada satu
Kau adalah orang yang spesial
Tak ada lagi engkau di dunia ini

Seorang lelaki yang lanjut berkata
Jika kau ingin menajdi orang yang baik dan benar
Baik berbeda dengan benar
Kau harus sanggup berbicara dengan bukan dirimu

Seorang lelaki yang membuatku memahami hidup
Untuk lebih membuka hati
Jiwa dan mata
Untuk menjadi seorang aku, yang benar-benar aku, aku ...............

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......