Langsung ke konten utama

puisi cinta yang terjaga

sayang, aku cintai kamu seperti pagi dan rasa berat di mataku ini. aku dambai kamu seperti kopi di gelas butut yang temaniku begadang semalaman ini.

dan atas alasan ini pulalah kenapa mataku tak pejam,menolak mimpi lurusnya pematang perjalanan
di saat malaikat di jiwa sendiri tak berkenan.

sayang, cerahnya pagi dan mata yang menuntut jedah panjang peristirahatan
adalah kejelasan tuntutan lenyapnya matahari pagi. akan aku lewatkan kicau burung dan orang orang yang bergegas ke tempat kerja.

kopi di gelas ini selalu terbagi dalam sari yang mengendap, terpisah dengan airnya.
meski mereka telah menyatu, tapi sari tak pernah menjadikannya benar benar air.
ia adalah bagian dari kopi di gelas ini pula

lalu bagaimana aku mampu biarkan diri mencintai
jika aku sendiri tegak di ujung terjalan sebelum membuatmu mengerti,bahwa aku masih belum menerima kewajaran yang selalu tak pernah kuanggap wajar dan pasti.

bunga tak pernah tumbuh di tanah yang tak menumbuhkan bunga. cinta terbit di atas kesepadanan rasa dan keseimbangan pernyataannya atas ruas jalan yang mungkin ia dedah.

dan seperti pagi ini juga, berat mata dan segelas kopi jangan jadikan puisi tak lagi terjaga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......