Langsung ke konten utama

Kurban

berkerumun itu kita bergandengan di atas aliran-aliran darah terpetak-petakan pada kumpulan masing-masing. sebenarnya perorangan meluas digarap berdasarkan kesukaan berkumpul mencari keberimbangan keserasian. siapa beruntung elastis memihak tambak-tambak keberanian di antara pematang-pematang berseliweran berundak naik-naik. air irigasi direguk pesawahan bermuara di tengkulak-tengkulak.

berkerudung panjang berkerudung pendek berjalan beriringan, indah itu bukan hanya di hari-hari ketika hewan-hewan dipenggal bukan hanya di hari-hari ketika tangan-tangan berjabatan. berpeci hitam berpeci putih menyatu indah itu bukan hanya di hari-hari ketika kulit-kulit berbulu tipis itu dicetak bedug-bedug dan di gantung di tempat-tempat ritual.

dulu berjalan ismail berpasrah kepada mimpi ibrahim, siapa kira ismail-ismail bertanduk disaksikan pelupuk kepasrahan secuil berat untuk diberikan. diganyang melintang meliuk melepuh dalam wajan-wajan perdebatan sunyi persengketaan nurani menciduki ramuan sepetak-sepetak dihagaz itu sorga pada ombang-ambing keraguan dan keberanian untuk menoleh jamur jerami, sarang capung, lubang melata. coba tercarut golok jagal hingga setengah nafas yang tuhan berikan pada saripati makanan terkunyah, minuman terseruput lalui temulang lembut gerak statis meliuk-liuk seratus delapan puluh darjah, kadang beritma beirama ketika pelatihan peperangan dipersiapkan. coba terpancang samurai tembusi tonjol kelaki-lakian pada anak taat mimpi yanda itu.

Des '06

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......