Langsung ke konten utama

Gadisnowsky

Adakah kau berdetak seperti detakku
Serupa nada lagukan cinta untukmu

Adakah apimu seperti apiku
Sebeku salju aku barakan untukmu

Adakah petak hatimu seperti petakku
Seserpih debu aku padatkan untukmu

Adakah pada rayuku seperti rayumu padaku
Selentik kutu aku bangunkan istana rindu padamu

Adakah tangismu seperti tangisku padamu
Selusuh sapu aku sulamkan hangat sutera cinta padamu

Adakah damaimu seperti damai kutemu didirimu
Serubuh tenda aku teduhkan cinta padamu

Adakah mimpimu seperti mimpiku
Sesingkat kedip aku lelapkan harap padamu

Dan
Adakah mampuku syairkan sgalaku padamu tentangmu
Adakah.....
Serupa hujan pada kemarau dihentikan
Seindah pelangi pada terang dienyahkan
Sewangi bunga pada kering disampahkan
Sebenderang matahari pada malam dibenamkan
Sekuat karang pada debur perlahan digoyahkan
Sesetia napas pada mati dilupakan ....?
Atau juga....
Seseksi Britney pada keriput dikentuti
Sehebat Linux pada bug dikutuk
Sewaras Nietszche pada jujur digilakan

Kusyairkan saja....
Sgalaku padamu untuk sgala tidakku tentangmu
Padanyalah sgala tidakmu tentangku sgalamu padaku bermadu...

Jember, 2004
Bhre Philosophia Mohammadi a.k.a  Sigit Sre!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......