Langsung ke konten utama

Antologi Puisi Elektronik Hidayat Raharja

Antologi Puisi Elektronik kami hadirkan untuk anda. Kali ini datangnya dari Hidayat Raharja yang berdomisili di Sumenep, Madura. Antologi ini berisikan 33 puisi dari rentang tahun 1996 - 2006. Satu dekade puisi Hidayat Raharja dalam antologi ini akan membantu anda mengenal penyair yang kerap mengirimkan puisi sms ke puitika.net. Pilihlah Koleksi Karya - E- Antologi Puisi dan Hidayat Raharja dan nikmati puisinya.

Salah satu puisi dalam antologi puisi elektronik Hidayat Raharja:

Metamorfose


Engkau telah berubah, sapamu
Matahari bergeser dari balik sore saat kau duduk
Menuntaskan sisa kopi di dasar gelas
Aku teguk ingatan perjumpaan, bertahun lampau
Ada kecut kenangan, barangkali

Tetapi biru senyummu, masih Seperti tahun-tahun yang lalu
Hanya tubuhmu kian susut
Tajam matamu kian menikam
Ada matahari sembunyi di kelopakmu Putih sinarnya berpantulan menerakan baris-baris puisi
Garis-garis sepi
2006

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Puisi-Puisi Emong Soewandi

MOSAIK SEBUAH JEMBATAN KEDUKAAN kedukaan kini mesti diseberangi dengan berat yang mungkin tak terimbangkan antara aku dan keinginan, serta hati yang telah tertatih membimbing imajinasi ke puisi romantik tentang laut dan pelangi. maka jadilah bentuk dan garis bersinggungan tak-beraturan tanpa pangkal tanpa akhir tanpa isi tanpa tubuh adalah kegelisahan sebagai sandi-sandi rahasia yang memerlukan kunci pembuka diikat dengan rantai-rantai matahari ambang fajar. namun selalu saja lupa dimana ditaruh sebelumnya atau, mungkin telah lolos dari kantung untuk ingkari kesetiaan janji tentang bertanam benih di lahan yang baik ah, tentu butuh waktu untuk menemukannya sementara galau telah sampai di puncak tanpa purna-kepastian bengkulu, oktober 2005 LALU KEMARAU DI BULAN KEEMPAT belum ‘kan ada bunga kopi mekar, yang tegak di atas cadas. di antara daunan yang terkulai ditampar kering bumi. yang memang sulit tepati janji berikan mata air. maka jadilah pagi hari kita cukupkan saja dengan selemba...

Ayip Rosidi

Pengarang, editor, Ketua Dewan Pendiri Yayasan Kebudayaan Rancagé, Ketua Pendiri Yayasan Pusat Studi Sunda. Pernah bekerja sebagai pengajar bahasa dan kebudayaan Indonesia di Osaka Gaikokugo Daigaku (1981-2003), di samping mengajar juga di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daigaku (1982-1995), Jepang. Memprakarsai pelembagaan Hadiah Sastra Rancagé sejak 1989, dan memprakarsai penyelenggaraan Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) 2001 di Bandung. Menulis sejak remaja, baik dalam bahasa Indonesia maupun Sunda. Buku-buku karyanya, lebih dari seratus judul, antara lain berupa roman, koleksi puisi, koleksi cerita pendek, memoar, dan biografi.