Langsung ke konten utama

Tuju-an



Bumi ini makin renta dimakan usia

Sementara penghuninya semakin penuh sesak

Kadang bumi ini ingin mengajak kita merenungi namun tanpa kata-kata

Aku sendiri akan kembali mencoba menggapai mimpi

Mimpi yang dulu sering datang dalam tidurku

Aku memang belum bisa berbuat banyak untuk bumi

Ada yang memang beruntung ada yang tidak

Ada yang bisa menerimanya ada juga yang berontak

Orang-orang terdekatku juga

Ingin rasanya aku datangi mereka satu-persatu

Meski hanya dengan sedikit buah ditangan, berbagi sebuah asa

Tahukah kalian kalau kutak henti berdo’a

Namun biar sajalah kalian tidak tahu

Sebab biar hanya yakinku

Ada asaku dalam dada

Ada do’aku untukkmu

Semoga masih ku diberi waktu dan kesempatan

Kuingin kalian semua tersenyum biar getir dan manis

Biar do’a menjadi rahasiaku denganNya

Aku yakin akan datang suatu masa

Biarlah terus jadi rahasia

Asalkan kalian bahagia seutuhnya

Kukan terus simpan rahasia

Selamanya, sebab hanya itu kubisa saat ini……..



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......