Langsung ke konten utama

Musim ke Lima! Sayembara Puisi Bulan Ini Edisi Juli 2006 Puitika.net!

Setelah mendapatkan pemenang untuk edisi Juni 2006 maka Puitika.net kembali membuka sayembara di musim keempat untuk edisi Juli 2006. Untuk sayembara kali ini Puitika.net mengambil tema "Maafkan dan Lupakan". Sayembara ini diharapkan dapat memunculkan berbagai bentuk eksplorasi dan gagasan baru pada penulisan puisi. Panjang naskah maksimal 500 kata. Naskah dikirim ke panitia lewat email. Pengiriman naskah paling lambat tanggal 02 September 2006,disertai tulisan Sayembara Penulisan Puisi di headline e-mail. Puisi yang dikirim harus disertai biodata lengkap.

Editor akan memilih 10 puisi untuk di votingkan secara langsung untuk pembaca puitika.net. Puisi dengan suara terbanyak secara aklamasi akan menjadi Puisi Bulan Ini.

Puitika.net menyediakan hadiah menarik bagi pemenang pertama, kaos dari sponsor puitika.net dan piagam dari puitika.net. tersedia juga hadiah menarik buat pengirim dukungan yang akan di undi oleh pihak panitia.

Dukungan yang diberikan selain mencantumkan judul Puisi yang di pilih juga mencantumkan alasan memilih puisi. Minimal 50 kata E-mail mengirimkan puisi: sayembarapuisi@puitika.net
E-mail mengirimkan dukungan: votingpuisi@puitika.net

Periode Pengiriman s/d pengumuman pemenang
Batas kirim naskah: 02 September 2006
Pengumuman Nominasi 03 September 2006
Masa Voting: 04 September - 12 September 2006
Pengumuman pemenang: 13 September 2006

Dukungan anda menentukan puisi terfavorit.

MOHON TIDAK MENGIRIM NASKAH PUISI LOMBA MELALUI SITUS.
GUNAKAN EMAIL DI ATAS.

ttd,
Panitia Sayembara Puisi Puitika

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......