Langsung ke konten utama

Inilah KeIslaman Ku

 

Mengapa dinegeri Muslim terbesar ini
Masih saja terbelenggu kemiskinan
Terjerat oleh kebodohan yang tak pernah terpecahkan
Terjebak dalam Lumpur dosa dan kemunafikan?
 

Mungkin itu semua disebabkan oleh,
Karena Islamnya masih seperti aku
 

Yang ketika sedekah, dilakukan dengan  tengadah dan pongah
Yang ketika melawan kemaksiatan ,mengedepankan kekerasan dan teriakan
Yang ketika mengingatkan , lebih suka dengan makian
Yang punya sedikit kesholehan,dengan besar rasa pameran
Yang merasa bertaqwa bila menyiksa orang berdosa
 

Ketika melihat orang bersalah, merasa dirinya bebas masalah
Ketika  ketemu orang yang rusak, dalam hatinya dia bersorak
 

Merasa tinggi ,karena bisa merendahkan
Merasa rendah ,bila  orang lain pantas ditinggikan
Rasa benar bila bisa menyalahkan
Rasa salah bila harus membenarkan
 

Yang mengaku bersih, bukan  karena memang bersih
Tapi merasa bersih, karena mengotorkan yang lain
 

Seperti itulah aku

Jangan pernah ditiru......
 

PutNus 14-11-2004
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......