Langsung ke konten utama

Dari Ciwidey Dengan Cinta II


From Ciwidey with love II

ada cinta dan sayang hadir disana
kenangan lama terkuak kembali membawa sebuah cerita baru
butir-butir tali persahabatan menampakan kembali warnanya
mewarnai nuansa hati yang diliputi sejuta bunga

Saat itu tak ada rangkaian kata yg terucap
hanya butir-butir kerinduan yang mampu berucap
mewakili perasaan yang tak pernah sunyi
menghadirkan sebentuk persaudaraan nan abadi

Andaikan waktu mau berbagi lagi
menemukan sahabat sejati untuk berbagi
bersama-sama mengarungi ombak kehidupan
menuju sebuah keinginan dan harapan


Komentar

  1. Kawah Putih Tidak Lagi Mendidih.

    dingin
    hening
    putih
    bersih
    Tak ada lagi air mendidih di kawah putih

    bisu
    kaku
    kelu
    pilu
    Mengiringi langkahku menuruni rangkaian tangga tangga kayu

    Lalu aku berdiri terpaku disitu.....
    Dipinggir air Kawah Putih yang dingin dan beku

    angin pun bagaikan enggan bertiup
    membiarkan mentari yang sinarnya semakin redup
    seolah menyerah kepada desakan kuasa malam
    yang tak sabar ingin menebarkan gelap yang kelam

    Disisa sisa temaram cahaya terang
    kupusatkan ingatan yang menerawang
    Dikesunyian hati yang sepi dan dinginnya rasa yang mati
    kucoba mengingat lagi kehangatan yang pernah hadir disini
    Dahulu......
    Ketika kawah putih masih mendidih.


    PutNus 31 07 2006
    Ciwidey
    Allways in my hearth

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......